I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sapi merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang
berpotensi dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Sapi memiliki peranan
yang penting dalam pemenuhan protein hewani nasional, yaitu sebagai penghasil
daging dan susu. Menurut Badan Pusat Statistik (2019) Populasi sapi perah di
Indonesia pada tahun 2012 terjadi penurunan yaitu dari 611.940 ekor/tahun
menjadi 444.266 ekor/tahun. Hal ini juga terjadi pada sapi potong pada tahun
2012 yaitu dari 15.980.696 ekor/tahun menjadi
12.686.239 ekor/tahun. Penurunan populasi ini juga terjadi pada ternak kerbau (Badan Pusat
Statistik, 2019). Penurunan populasi ternak sapi dan kerbau ini disebabkan
karena manajemen perkawinan belum terkontrol, manajemen pemeliharaan yang belum
optimal dan keterbatasan genetik unggul. Salah satu langkah dalam mengatasi
berbagai persoalan tersebut adalah dengan penerapan berbagai teknologi yang
dapat menunjang produktifitas dari ternak sapi dan kerbau.
Beberapa teknologi reproduksi seperti Inseminasi
Buatan dan Transfer Embrio sudah benyak dilakukan oleh peneliti dan diterapkan
kepada peternakan rakyat maupun industry peternakan. Tujuan utama dari
pelaksanaan Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio ini adalah menggabungkan dua
genetic unggul agar didapatkan generasi keturunan yang memiliki performans,
produksi, dan reproduksi yang unggul yang diturunkan dari kedua tetua. Dalam
hal ini dikhususkan membahas perkawinan yang dilakukan dengan menggabungkan dua
breed yang berbeda (crossbreeding). Akan tetapi dalam pelaksanaannya teknologi
IB dan TE ini masih perlu dipertimbangkan kelebihan dan kekurangan. Paper ini akan
membahas beberapa dampak dari penerapan teknologi reproduksi terutama IB dan TE
sebagai teknologi reproduksi dalam perkawinan crossbreeding pada ternak sapi dan
kerbau.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana dampak positif dan
negative system perkawinan crossbreeding pada ternak sapi dan kerbau?
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui dampak
positif dan negative system perkawinan crossbreeding pada ternak sapi dan
kerbau.
II. PEMBAHASAN
2.1. Sistem Perkawinan Crossbreeding
Perkawinan
merupakan salah satu point penting dalam ilmu pemuliaan ternak. Karena salah
satu metode untuk mendapatkan bibit unggul dalam pemuliaan ternak adalah dengan
proses perkawinan.
Crossbreeding merupakan system perkawinan 2
individu yg tidak memiliki hubungan darah atau beda breed pada ternak. Sistem
perkawinan ini juga dapat dilakukan pada ternak yang memiliki hubungan darah
yang terlalu jauh. Cross breeding dalam dunia peternakan sangat baik dilakukan
untuk mendapatkan bibit yang berkualitas (Andika, 2013). Crossbreeding pada sapi potong mempunyai
tujuan antara lain :
a) membentuk
bangsa teranak baru (composite breed)
b) meningkatkan
produksi ternak lokal
c) mendapatkan
efek heterosis (sifat yang muncul dari persilangan yang berbeda dari induknya)
d) mendapatkan komplementari bangsa (breed
complementary).
Di dunia sapi potong praktek persilangan ini
banyak dilakukan untuk membentuk terminal cross atau composite breed
antara Bos taurus dan Bos indicus. Australia merupakan negara
peternakan yang banyak melakukan praktek ini untuk membentuk bangsa sapi baru
yang tahan panas, tahan kering dan tahan caplak, namun mempunyai produktivitas
yang tetap tinggi. Tercatat antara lain muncullah bangsa sapi baru silangan Bos
taurus-Bos indicus, antara lain Simbrah (Simmental-Brahman), Brangus
(Brahman-Angus), Australian Milking Zebu, Draught Master, Brahman Cross,
Sahiwal Cross. Sejauh ini tidak dilaporkan adanya penurunan tingkat
fertilitas secara signifikan bangsa sapi silangan tersebut di Australia dengan
manajemen peternakan pastura ekstensif (Andika, 2013).
2.2. Dampak Positif dan Negatif Sistem Perkawinan Crossbreeding
a.
Dampak system
perkawinan crossbreerng pada sapi import
Dezetter dkk (2017) telah melakukan
penelitian mengenai persilangan sapi perah Holstein dengan sapi Montbeliarde, Normande, and Scandinavian Red di
Prancis dengan perkawinan buatan (Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio) dalam
meningkatkan produksi susu. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar
1. Produksi Susu Sapi Persilangan Holstein (HO) dengan
Montbeliarde (MO), Normande (NO) dan Scandinavian Red (SR)
Perkawinan antara sapi HO dengan MO dapat dilakukan dengan teknologi
transfer embrio mengingat keunggulan dari TE ini dapat menghasilkan kelahiran
kembar. Sel telur dari betina HO betina unggul diambil dan ditransfer ke
resipien, dalam hal ini ternak resipien dapat berupa sapi MO atau sperma yang
digunakan berasal dari sapi MO unggul. Tujuan utama dari TE sapi HO dengan MO
ini adalah peningkatan produksi susu karena HO merupakan salah satu breed
penghasil susu sapi terbesar didunia.
Selain itu hasil peenelitian Cluny (2014) memaparkan bahwa persilangan
sapi Holstein dengan Jersey terhadap produksi susu. Hasil lebih lanjut dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Lemak dan Protein Susu
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa kandungan lemak susu sapi persilangan
Holstein dengan Jersey lebih tinggi dibandingkan dengan sapi Holstein. Menurut Arefaine dan Mokhtar (2015) kandungan lemak pada susu
menentukan kualitas dari susu, semakin tinggi kandungan lemak maka semakin baik
kualitas susu dan semakin disukai oleh konsumen. Persilangan sapi Holstein
dengan Jersey ini dapat dilakukan dengan teknologi TE. Hal ini disebabkan karena penerapan TE dapat
meningkatkan populasi ternak disuatu daerah dan dengan cepat mentransfer
genetik ternak yang unggul dari daerah satu kedaerah lainnya seperti genetic
sapi Holstein dan Jersey unggul, selain itu penerapan teknologi TE yang
dilakukan dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan persyaratan TE dapat
meminimalisir penggunaan biaya penularan penyakit yang sering terjadi pada
kawin alam.
Penerapan teknologi TE dapat
meningkatkan produksi ternak terutama pada ternak perah dan ternak potong.
Hampir semua studi menunjukkan bahwa teknologi pemuliaan dengan MOET dapat
meningkatkan respons genetik yang lebih baik dari pada program IB, hal ini
disebabkan karena MOET memberikan hasil interval generasi yang lebih pendek,
menghasilkan keturunan dari betina yang memiliki genetik unggul. Tetapi dalam
pelaksanaannya MOET memiliki keterbatasan seperti rendahnya rata-rata dan
tingkat keragaman pada embrio betina. Keterbatasan ini dapat diatasi dengan
memanen sel telur secara non-bedah dari betina dan selanjutnya pematangan dan
fertilisasi dilakukan secara invitro agar jumlah embrio yang dapat ditransfer
lebih banyak (Hossein dan Zadeh, 2010).
b.
Dampak system
perkawinan crossbreeding pada sapi local
Hasil penelitian Nurgiartiningsih (2010)
menunjukkan bahwa keturunan persilangan sapi Madura dan sapi Limosin dengan
sistem perkawinan IB memperlihatkan ukuran tubuh sapi hasil persilangan lebih
baik dibandingkan dengan sapi madura murni, akan tetapi hasil analisa statistic
tidak berpengaruh nyata. Hasil lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Ukuran
tubuh sapi Madura murni (M), sapi persilangan F1 Madura dan Limosin (LM-G1) dan
sapi persilangan F2 Madura dan Limosin (LM-G2) pada umur 12 bulan
Dari tabel dapat kita lihat bahwa hasil persilangan sapi
Madura dan sapi Limosin F1 memiliki lebar dada, panjang badan dan tinggi gumba
lebih baik dibandingkan dengan sapi madura murni, akan tetapi untuk ukuran
lebar dada pada F2 terjadi penurunan.
Keunggulan psapi Madura yang merupakan potensi besar
untuk pengembangan adalah secara genetic memiliki sifat toleran terhadap iklim
panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak, kemampuan
adaptasi tinggi terhadap kualitas pakan yang rendah, serta kebutuhan pakan
lebih sedikit dibandingkan dengan sapi impor. Sedangkan untuk sapi Limosin
adalah pertambahan bera badan harian yang lebih baik dibandingkan dengan sapi
lokal (Nurgiartiningsih, 2010).
Penerapan sistem persilangan sapi Madura dan sapi
Limosin ini ditujukan agar performans dari keturunannya lebih baik seperti
pertambahan bobot badan harian yang baik dan daya adaptasi dengan lingkungan di
Indonesia juga baik. Akan tetapi jika secara terus menerus dilakukan makan akan
terjadi pemusnahan plasma nutfah Indonesia yaitu sapi Madurna murni.
c.
Dampak sistem
perkawinan crossbreeding pada kerbau
Teknologi
pemuliaan seperti persilangan menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan mutu
genetik ternak. Chiangmai dan
Chavananikul (1994) telah melakukan persilangan antara kerbau sungai (murrah)
dengan kerbau rawa dimana hasil dari persilangan kerbau tersebut mampu menghasilkan
keturunan. Kedua jenis
kerbau (sungai dan rawa) memiliki produksi susu yang berbeda. Produksi susu
kerbau rawa adalah 1-2 liter/hari (Thomas, 2008) sedangkan kerbau Murrah 7-9
liter/hari. Dari hasil persilangan antara kerbau Murrah dengan kerbau Rawa
diharapkan dapat menjadi ternak dwiguna yaitu penghasil susu dan pedaging. Dari
persilangan ini didapatkan peningkatan produksi susu kerbau persilangan
dibandingkan dengan produksi susu kerbau rawa
murni. Hasil roduksi susu persilangan kerbau Murrah dengan kerbau Rawa
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 3. Hasil produksi susu
persilangan kerbau Murrah dengan kerbau Rawa
Pada Tabel 3
dapat dilihat bahwa produksi susu kerbau persilangan. Kerbau rawa menghasilkan
produksi susu 1-2 kg/hari sedangkan persilangan kerbau rawa-kerbau murrah untuk
F1 produksi susunya mencapai 2-3 kg/hari (2,87 kg/hari) dan untuk F2 3-4
kg/hari (3,40 kg/hari). Di Indonesia terutama di Sumatera Barat pemeliharaan
kerbau sungai masih sangat jarang ditemukan, umumnya kerbau yang dipelihara
adalah kerbau rawa dimana tujuan pemeliharaannya dijadikan sebagai ternak
multiguna yaitu penghasil daging, diperah dan sebagai tenaga kerja. Untuk dapat
meningkatkan produksi susu dari kerbau rawa maka teknologi persilangan antara
kerbau rawa dengan kerbau sungai dapat menjadi solusi. Inseminasi Buatan
menjadi salah satu alternative dalam perkawinan kerbau Rawa dengan kerbau
Murrah. Menurut Jansen dan Johan (2019) upaya peningkatan produksi susu kerbau
dapat dilakukan dengan teknologi persilangan antara kerbau Murrah yang berasal
dari daerah Haryana dan Punjap, karena kerbau asal daerah ini diyakini memiliki
produksi susu yang baik.
Penelitian mengenai persilangan kerbau rawa dengan kerbau
sungai secara kawin alam masih sedikit ditemukan, akan tetapi penerapan
teknologi seperti IB (Inseminasi Buatan) sudah dilakukan dan dapat diandalkan
untuk memperoleh bibit kerbau yang baik (Wirdahayati, 2007).
III. KESIMPULAN
Sistem perkawinan crossbreeding
merupakan salah satu sistem perkawinan yang dapat meningkatkan mutu genetic
ternak karena kedua tetua berasal dari genetic yang unggul. Beberapa penelitian
telah dilakukan dan mendapatkan hasil bahwa sistem perkawinan crossbreeding ini
dapat meningkatkan produksi susu sapi dan kerbau, meningkatkan pertambahan
bobot badan harian pada sapi lokal persilangan dan meningkatkan daya adaptasi
yang lebih baik pada sapi import di lingkungan Indonesia. Akan tetapi jika
pelaksanaan sistem perkawinan ini dilakukan terus menerus maka dapat
memusnahkan plasma nutfah Indonesia,
DAFTAR PUSTAKA
Andika, B. 2013. Crossbreeding Ternak. https:// crossbreeding-ternak//.
Html.
Arefaine, H dan Mokhtar, K. 2015. A Review on Strategies for
Sustainable Buffalo Milk Production in Egypt. Journal of
Biology, Agriculture and Healthcare. 5 (9) : 63-68.
Badan Pusat Statistik. 2019. Populasi Ternak
Provinsi. https://sumbar.bps.go.id. Diakses pada Selasa 07-05-2019 Pukul 09:00 WIB.
Chiangmai,
N.A and Chavananikul, V. 1994. Performance and
Cytogenetic Aspects of Swamp x River Crossbred Buffaloes. Departement of
Livestock. Bangkok. Thailand.
Cluny, P. 2014. Jersey and Holstein Crossbreeds. A-Profitable, Adaptable
Tropical Dairy Breed. Australian livestock to the world. 1-31
Dezetter, C., N. Bareille., D. Billon., C. Cortes., C. Lechartier., and
H. Seegers. 2017. Changes in animal
performance and profitability of Holstein dairy operations after introduction
of crossbreeding with Montbéliarde, Normande, and Scandinavian Red. J. Dairy
Sci. 100:8239–8264.
Hossein, N. G dan
Zadeh. 2010. Evaluation of the genetic trend of milk yield in the multiple
ovulation and embryo transfer populations of dairy cows, using stochastic
simulation. Science Direct. 333 : 710-715.
Jansen,
E and Johan, S. 2019. Technology
adoption and value chains in developing countries: Evidence from dairy in India.
Elsevier. 83 : 327-336
Nurgiartiningsih, V. M.
A. 2010. Sistem Breeding dan Performans
Hasil Persilangan Sapi Madura di Madura. Jurnal Ternak Tropika Vol. 11, No.2: 23-3.
Thomas, C. S. 2008.
Efficient Dairy Buffalo Production. Delaval International. Tumba Sweden.
Wirdahayati. 2007. Upaya Peningkatan Produksi Susu Kerbau untuk Kelestarian Produk Dadih di
Sumatera Barat. Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10,
Bogor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar