Rabu, 18 Maret 2020

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF SISTEM PERKAWINAN CROSSBREEDING PADA TERNAK SAPI DAN KERBAU


I.                   PENDAHULUAN


1.1.       Latar Belakang


Sapi merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang berpotensi dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Sapi memiliki peranan yang penting dalam pemenuhan protein hewani nasional, yaitu sebagai penghasil daging dan susu. Menurut Badan Pusat Statistik (2019) Populasi sapi perah di Indonesia pada tahun 2012 terjadi penurunan yaitu dari 611.940 ekor/tahun menjadi 444.266 ekor/tahun. Hal ini juga terjadi pada sapi potong pada tahun 2012 yaitu dari 15.980.696 ekor/tahun menjadi 12.686.239 ekor/tahun. Penurunan populasi ini juga terjadi pada ternak kerbau (Badan Pusat Statistik, 2019). Penurunan populasi ternak sapi dan kerbau ini disebabkan karena manajemen perkawinan belum terkontrol, manajemen pemeliharaan yang belum optimal dan keterbatasan genetik unggul. Salah satu langkah dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut adalah dengan penerapan berbagai teknologi yang dapat menunjang produktifitas dari ternak sapi dan kerbau.

Beberapa teknologi reproduksi seperti Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio sudah benyak dilakukan oleh peneliti dan diterapkan kepada peternakan rakyat maupun industry peternakan. Tujuan utama dari pelaksanaan Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio ini adalah menggabungkan dua genetic unggul agar didapatkan generasi keturunan yang memiliki performans, produksi, dan reproduksi yang unggul yang diturunkan dari kedua tetua. Dalam hal ini dikhususkan membahas perkawinan yang dilakukan dengan menggabungkan dua breed yang berbeda (crossbreeding). Akan tetapi dalam pelaksanaannya teknologi IB dan TE ini masih perlu dipertimbangkan kelebihan dan kekurangan. Paper ini akan membahas beberapa dampak dari penerapan teknologi reproduksi terutama IB dan TE sebagai teknologi reproduksi dalam perkawinan crossbreeding pada ternak sapi dan kerbau.

1.2.       Rumusan Masalah


Bagaimana dampak positif dan negative system perkawinan crossbreeding pada ternak sapi dan kerbau?

1.3.       Tujuan


Untuk mengetahui dampak positif dan negative system perkawinan crossbreeding pada ternak sapi dan kerbau.




II.                PEMBAHASAN


2.1.            Sistem Perkawinan Crossbreeding


Perkawinan merupakan salah satu point penting dalam ilmu pemuliaan ternak. Karena salah satu metode untuk mendapatkan bibit unggul dalam pemuliaan ternak adalah dengan proses perkawinan. Crossbreeding merupakan system perkawinan 2 individu yg tidak memiliki hubungan darah atau beda breed pada ternak. Sistem perkawinan ini juga dapat dilakukan pada ternak yang memiliki hubungan darah yang terlalu jauh. Cross breeding dalam dunia peternakan sangat baik dilakukan untuk mendapatkan bibit yang berkualitas (Andika, 2013). Crossbreeding pada sapi potong mempunyai tujuan antara lain :

 a) membentuk bangsa teranak baru (composite breed)

 b) meningkatkan produksi ternak lokal

 c) mendapatkan efek heterosis (sifat yang muncul dari persilangan yang berbeda dari induknya)

d) mendapatkan komplementari bangsa (breed complementary).

 Di dunia sapi potong praktek persilangan ini banyak dilakukan untuk membentuk terminal cross atau composite breed antara Bos taurus dan Bos indicus. Australia merupakan negara peternakan yang banyak melakukan praktek ini untuk membentuk bangsa sapi baru yang tahan panas, tahan kering dan tahan caplak, namun mempunyai produktivitas yang tetap tinggi. Tercatat antara lain muncullah bangsa sapi baru silangan Bos taurus-Bos indicus, antara lain Simbrah (Simmental-Brahman), Brangus (Brahman-Angus), Australian Milking Zebu, Draught Master, Brahman Cross, Sahiwal Cross. Sejauh ini tidak dilaporkan adanya penurunan tingkat fertilitas secara signifikan bangsa sapi silangan tersebut di Australia dengan manajemen peternakan pastura ekstensif (Andika, 2013).

2.2.            Dampak Positif dan Negatif Sistem Perkawinan Crossbreeding


a.                  Dampak system perkawinan crossbreerng pada sapi import

   Dezetter dkk (2017) telah melakukan penelitian mengenai persilangan sapi perah Holstein dengan sapi Montbeliarde, Normande, and Scandinavian Red di Prancis dengan perkawinan buatan (Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio) dalam meningkatkan produksi susu. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Produksi Susu Sapi Persilangan Holstein (HO) dengan Montbeliarde (MO), Normande (NO) dan Scandinavian Red (SR)

  Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan produksi susu sapi persilangan HOxMO (9500-9800 L/ekor/tahun) dibandingan dengan sedangkan persilangan F2 HOxMO x NO (8500 L/ekor/tahun) dan HOxMO x SR (9000 L/ekor/tahun). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persilangan sapi Holstein dengan Montbeliarde dapat meningkatkan produksi susu pertahunnya.

Perkawinan antara sapi HO dengan MO dapat dilakukan dengan teknologi transfer embrio mengingat keunggulan dari TE ini dapat menghasilkan kelahiran kembar. Sel telur dari betina HO betina unggul diambil dan ditransfer ke resipien, dalam hal ini ternak resipien dapat berupa sapi MO atau sperma yang digunakan berasal dari sapi MO unggul. Tujuan utama dari TE sapi HO dengan MO ini adalah peningkatan produksi susu karena HO merupakan salah satu breed penghasil susu sapi terbesar didunia.

Selain itu hasil peenelitian Cluny (2014) memaparkan bahwa persilangan sapi Holstein dengan Jersey terhadap produksi susu. Hasil lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Lemak dan Protein Susu


Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa kandungan lemak susu sapi persilangan Holstein dengan Jersey lebih tinggi dibandingkan dengan sapi Holstein. Menurut Arefaine dan Mokhtar (2015) kandungan lemak pada susu menentukan kualitas dari susu, semakin tinggi kandungan lemak maka semakin baik kualitas susu dan semakin disukai oleh konsumen. Persilangan sapi Holstein dengan Jersey ini dapat dilakukan dengan teknologi TE. Hal ini disebabkan karena penerapan TE dapat meningkatkan populasi ternak disuatu daerah dan dengan cepat mentransfer genetik ternak yang unggul dari daerah satu kedaerah lainnya seperti genetic sapi Holstein dan Jersey unggul, selain itu penerapan teknologi TE yang dilakukan dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan persyaratan TE dapat meminimalisir penggunaan biaya penularan penyakit yang sering terjadi pada kawin alam.

Penerapan teknologi TE gies could enhance cattle production at several levels in bothdapat meningkatkan produksi ternak terutama pada ternak perah dan ternak potong. Hampir semua studi menunjukkan bahwa teknologi pemuliaan dengan MOET dapat meningkatkan respons genetik yang lebih baik dari pada program IB, hal ini disebabkan karena MOET memberikan hasil interval generasi yang lebih pendek, menghasilkan keturunan dari betina yang memiliki genetik unggul. Tetapi dalam pelaksanaannya MOET memiliki keterbatasan seperti rendahnya rata-rata dan tingkat keragaman pada embrio betina. Keterbatasan ini dapat diatasi dengan memanen sel telur secara non-bedah dari betina dan selanjutnya pematangan dan fertilisasi dilakukan secara invitro agar jumlah embrio yang dapat ditransfer lebih banyak (Hossein dan Zadeh, 2010).

b.             Dampak system perkawinan crossbreeding pada sapi local

Hasil penelitian Nurgiartiningsih (2010) menunjukkan bahwa keturunan persilangan sapi Madura dan sapi Limosin dengan sistem perkawinan IB memperlihatkan ukuran tubuh sapi hasil persilangan lebih baik dibandingkan dengan sapi madura murni, akan tetapi hasil analisa statistic tidak berpengaruh nyata. Hasil lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Ukuran tubuh sapi Madura murni (M), sapi persilangan F1 Madura dan Limosin (LM-G1) dan sapi persilangan F2 Madura dan Limosin (LM-G2) pada umur 12 bulan


Dari tabel dapat kita lihat bahwa hasil persilangan sapi Madura dan sapi Limosin F1 memiliki lebar dada, panjang badan dan tinggi gumba lebih baik dibandingkan dengan sapi madura murni, akan tetapi untuk ukuran lebar dada pada F2 terjadi penurunan.

Keunggulan psapi Madura yang merupakan potensi besar untuk pengembangan adalah secara genetic memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak, kemampuan adaptasi tinggi terhadap kualitas pakan yang rendah, serta kebutuhan pakan lebih sedikit dibandingkan dengan sapi impor. Sedangkan untuk sapi Limosin adalah pertambahan bera badan harian yang lebih baik dibandingkan dengan sapi lokal (Nurgiartiningsih, 2010).

Penerapan sistem persilangan sapi Madura dan sapi Limosin ini ditujukan agar performans dari keturunannya lebih baik seperti pertambahan bobot badan harian yang baik dan daya adaptasi dengan lingkungan di Indonesia juga baik. Akan tetapi jika secara terus menerus dilakukan makan akan terjadi pemusnahan plasma nutfah Indonesia yaitu sapi Madurna murni.

c.                   Dampak sistem perkawinan crossbreeding pada kerbau

Teknologi pemuliaan seperti persilangan menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan mutu genetik ternak.  Chiangmai dan Chavananikul (1994) telah melakukan persilangan antara kerbau sungai (murrah) dengan kerbau rawa dimana hasil dari persilangan kerbau tersebut mampu menghasilkan keturunan. Kedua jenis kerbau (sungai dan rawa) memiliki produksi susu yang berbeda. Produksi susu kerbau rawa adalah 1-2 liter/hari (Thomas, 2008) sedangkan kerbau Murrah 7-9 liter/hari. Dari hasil persilangan antara kerbau Murrah dengan kerbau Rawa diharapkan dapat menjadi ternak dwiguna yaitu penghasil susu dan pedaging. Dari persilangan ini didapatkan peningkatan produksi susu kerbau persilangan dibandingkan dengan produksi susu kerbau rawa  murni. Hasil roduksi susu persilangan kerbau Murrah dengan kerbau Rawa dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 3. Hasil produksi susu persilangan kerbau Murrah dengan kerbau Rawa


            Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa produksi susu kerbau persilangan. Kerbau rawa menghasilkan produksi susu 1-2 kg/hari sedangkan persilangan kerbau rawa-kerbau murrah untuk F1 produksi susunya mencapai 2-3 kg/hari (2,87 kg/hari) dan untuk F2 3-4 kg/hari (3,40 kg/hari). Di Indonesia terutama di Sumatera Barat pemeliharaan kerbau sungai masih sangat jarang ditemukan, umumnya kerbau yang dipelihara adalah kerbau rawa dimana tujuan pemeliharaannya dijadikan sebagai ternak multiguna yaitu penghasil daging, diperah dan sebagai tenaga kerja. Untuk dapat meningkatkan produksi susu dari kerbau rawa maka teknologi persilangan antara kerbau rawa dengan kerbau sungai dapat menjadi solusi. Inseminasi Buatan menjadi salah satu alternative dalam perkawinan kerbau Rawa dengan kerbau Murrah. Menurut Jansen dan Johan (2019) upaya peningkatan produksi susu kerbau dapat dilakukan dengan teknologi persilangan antara kerbau Murrah yang berasal dari daerah Haryana dan Punjap, karena kerbau asal daerah ini diyakini memiliki produksi susu yang baik.

            Penelitian mengenai persilangan kerbau rawa dengan kerbau sungai secara kawin alam masih sedikit ditemukan, akan tetapi penerapan teknologi seperti IB (Inseminasi Buatan) sudah dilakukan dan dapat diandalkan untuk memperoleh bibit kerbau yang baik (Wirdahayati, 2007).




III.             KESIMPULAN


Sistem perkawinan crossbreeding merupakan salah satu sistem perkawinan yang dapat meningkatkan mutu genetic ternak karena kedua tetua berasal dari genetic yang unggul. Beberapa penelitian telah dilakukan dan mendapatkan hasil bahwa sistem perkawinan crossbreeding ini dapat meningkatkan produksi susu sapi dan kerbau, meningkatkan pertambahan bobot badan harian pada sapi lokal persilangan dan meningkatkan daya adaptasi yang lebih baik pada sapi import di lingkungan Indonesia. Akan tetapi jika pelaksanaan sistem perkawinan ini dilakukan terus menerus maka dapat memusnahkan plasma nutfah Indonesia,






DAFTAR PUSTAKA


Andika, B. 2013. Crossbreeding Ternak. https:// crossbreeding-ternak//. Html.

Arefaine, H dan Mokhtar, K. 2015. A Review on Strategies for Sustainable Buffalo Milk Production in Egypt. Journal of Biology, Agriculture and Healthcare. 5 (9) : 63-68.

Badan Pusat Statistik. 2019. Populasi Ternak Provinsi. https://sumbar.bps.go.id. Diakses pada Selasa 07-05-2019 Pukul 09:00 WIB.

Chiangmai, N.A and Chavananikul, V. 1994.  Performance and Cytogenetic Aspects of Swamp x River Crossbred Buffaloes. Departement of Livestock. Bangkok. Thailand.

Cluny, P. 2014. Jersey and Holstein Crossbreeds. A-Profitable, Adaptable Tropical Dairy Breed. Australian livestock to the world. 1-31

Dezetter, C., N. Bareille., D. Billon., C. Cortes., C. Lechartier., and H. Seegers. 2017.  Changes in animal performance and profitability of Holstein dairy operations after introduction of crossbreeding with Montbéliarde, Normande, and Scandinavian Red. J. Dairy Sci. 100:8239–8264.

Hossein, N. G dan Zadeh. 2010. Evaluation of the genetic trend of milk yield in the multiple ovulation and embryo transfer populations of dairy cows, using stochastic simulation. Science Direct. 333 : 710-715.

Jansen, E and Johan, S. 2019. Technology adoption and value chains in developing countries: Evidence from dairy in India. Elsevier. 83 : 327-336

Nurgiartiningsih, V. M. A. 2010. Sistem Breeding dan Performans Hasil Persilangan Sapi Madura di Madura. Jurnal Ternak Tropika Vol. 11, No.2: 23-3.

­­­­Thomas, C. S. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Delaval International. Tumba Sweden.

Wirdahayati. 2007. Upaya Peningkatan Produksi Susu Kerbau untuk Kelestarian Produk Dadih di Sumatera Barat. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor








Tidak ada komentar:

Posting Komentar