I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sapi
merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang berpotensi dalam menunjang
ketahanan pangan nasional. Sapi memiliki peranan yang penting dalam pemenuhan
protein hewani nasional, yaitu sebagai penghasil daging dan susu. Menurut Badan
Pusat Statistik (2019) Populasi sapi perah di Indonesia pada tahun 2012 terjadi
penurunan yaitu dari 611.940 ekor/tahun menjadi 444.266 ekor/tahun. Hal ini
juga terjadi pada sapi potong pada tahun 2012 yaitu dari 15.980.696 ekor/tahun menjadi 12.686.239 ekor/tahun. Penurunan populasi sapi ini
disebabkan karena manajemen perkawinan belum terkontrol, sistem pemeliharaan
belum baik, dan keterbatasan genetik unggul. Permasalahan ini dapat diatasi
dengan melakukan penerapan teknolog reproduksii. Salah satunya adalah teknologi
Transfer Embrio (TE).
Transfer
embrio (TE) merupakan salah satu teknologi reproduksi yang berkembang di berbagai
Negara termasuk Indonesia. TE merupakan suatu rangkaian proses
bioteknologi mulai dari pemilihan sapi donor dan resipien, sinkronisasi birahi,
superovulasi, inseminasi buatan, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi
embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan
kelahiran. TE memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan dari
sifat kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga dapat
memperbaiki mutu genetik ternak. Selain itu, penerapan TE pada betina unggul yang disuperovulasi
kemudian diinseminasi dengan sperma pejantan unggul dapat menghasilkan sekitar
40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun, bila dibandingkan dengan
perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun.
Aplikasi
TE di Indonesia dimulai pada tahun 1980-an. Saat ini penelitian dan
penguasaan teknologi telah dilakukan dan dikembangkan oleh berbagai
institusi, seperti Balitnak, Balai Embrio Ternak, LIPI dan beberapa
Perguruan Tinggi seperti IPB, UGM, Brawijaya, Airlangga dan lain-lain.
Keberhasilan teknologi TE di Indonesia masih sangat beragam dan dampaknya
untuk perkembangan maupun peningkatan produktivitas ternak masih sangat
minimal. Program untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi TE masih belum
terfokus dengan baik. Padahal teknologi ini merupakan salah satu wahana yang sangat
penting dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak (Situmorang dan Endang,
2004).
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana
perkembangan ilmu dan penerapan teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetik
ternak ?
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui sejauh mana hasil penelitian
dalam perkembangan ilmu dan penerapan teknologi TE dalam meningkatkan mutu
genetic ternak.
1.4. Manfaat
Dapat
memberikan informasi dan referensi mengenai hasil-hasil penelitian dalam
pelaksanaan teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Transfer Embrio (TE)
TE merupakan aplikasi bioteknologi reproduksi yang akhir-akhir ini
sedang berkembang pesat dimana kegiatannya mencakup produksi, penanganan dan
transfer embrio. Produksi embrio dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro.
Keberhasilan TE pertama kali dilaporkan pada kelinci, tahun 1891 di Inggris dan
pada domba pada tahun 1934, pada sapi, kerbau dan babi pada tahun
1951 dan pada kuda tahun 1974 (Situmorang
dan Endang, 2004). Pemanfaatan teknologi ini pada mulanya dipergunakan dalam
perdagangan ternak, terutama yang pada waktu itu dilindungi. Saat ini
perdagangan embrio sudah sangat meluas, melalui penjualan embrio beku yang
disimpan dalam nitrogen cair (Situmorang dan Endang, 2004).
Menurut Vijayalakshmy
dkk (2018) Tujuan utama transfer embrio adalah untuk meningkatkan
angka konsepsi, peningkatan jumlah keturunan per tahun dari ternak betina unggul
atau yang memiliki genotipe unggul, membantu dalam meningkatkan produksi
komersial dan juga dapat meningkatkan potensi genetik
ternak. Teknik transfer embrio memberikan laju peningkatan genetik yang cepat
dari kualitas keturunan yang dihasilkan dengan biaya yang relatif lebih rendah daripada membeli ternak hidup.
ternak. Teknik transfer embrio memberikan laju peningkatan genetik yang cepat
dari kualitas keturunan yang dihasilkan dengan biaya yang relatif lebih rendah daripada membeli ternak hidup.
Produksi embrio secara in vivo juga dikenal
dengan teknologi Multiple Ovulation Embrio Transfer (MOET).
Teknologi ini sudah sangat luas di aplikasikan di berbagai Negara seperti di
Eropa, Amerika, Jepang, Australia dan Negara maju lainnya. Tujuan dari
teknologi ini adalah untuk menghasilkan embrio yang banyak dalam satu kali
siklus. Hal ini dapat dicapai dengan penyuntikan hormon gonadotrophin (FSH,
PMSG) secara intra muscular pada siklus berahi hari ke 10. Penyuntikan PMSG
dilakukan satu kali penyuntikan sedang FSH diberikan umumnya 2 x sehari dengan
interval waktu 12 jam selama 3-5 hari pemberian (Situmorang dan Endang, 2004).
Beberapa penelitian menunjukkan pemberian hCG atau penyuntikan FSH tunggal pada
siklus berahi hari 1 dapat meningkatkan jumlah embrio yang tertampung
(Situmorang dkk, 1998).
Faktor penghambat teknologi MOET ini adalah respons
donor yang masih sangat bervariasi terhadap perlakuan hormon sehingga satu
individu dapat menghasilkan sampai 30 embrio sedang individu yang lain tidak
ada dan hal ini baru dapat diketahui setelah pemberian hormone. Disamping itu
harga hormon yang cukup tinggi juga menjadi faktor pembatas didalam aplikasi
teknologi MOET.
TE secara in vitro memiliki 3 aspek utama
yaitu pematangan sel telur pembuahan sel teur dan pembiakan embrio secara in
vitro. Sel telur umumnya didapat dari ovarium yang berasal dari rumah
potong hewan. Sel telur dikumpulkan dengan metode aspirasi maupun slicing
kemudian dimatangkan secara in vitro. Pematangan dilakukan pada media
yang umumnya mengandung hormon estrogen, FSH, LH, prolactin, progesteron
ataupun protein ovarium dan peptida (Situmorang dan Endang, 2004). Hormon yang
paling umum digunakan saat ini adalah FSH, estrogen dan LH. Keberhasilan
pembuahan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas spermatozoa.
2.2. Prinsip Pelaksanaan Teknologi TE
Prinsip utama dari teknologi TE adalah
untuk mengeksploitasi kapasitas reproduksi betina unggul agar dapat
menghasilkan lebih banyak keturunan, dan melestarikan bahan genetic unggul
dalam transfer genetic. Selain itu teknologi ini juga dapat meningkatkan angka
kelahiran kembar dengan cara manipulasi embrio, pemendekan interval generasi,
dan pelaksanaan ekspor dan impor bahan genetic yang unggul dan melestarikan
genetic yang terancam punah (Vijayalakshmy dkk, 2018).
2.3. Pemilihan Donor dan Resipien dalam Pelaksanaan TE
Menurut Vijayalakshmy dkk, (2018) Faktor-faktor harus dipertimbangkan
untuk pemilihan donor dan resipien adalah betina yang memiliki genetic unggul,
kondisi fisiologis sehat (reproduksi normal, tidak memiliki riwayat penyakit, berpotensi
secara ekonomi, sudah menghasilkan keturunan).
Untuk sapi perah
dianjurkan untuk memilih ternak yang memiliki indeks sapi yang tinggi, yaitu ukuran
kemampuan transmisi genetik untuk produksi susu, dan kandungan lemak serta
protein susu.
2.4. Tahapan Pelaksanaan TE
Menurut Vijayalakshmy dkk, (2018) Tahapan dari pelaksanaan TE dapat dilihat pada
Bagan 1.
Bagan
1. Tahapan
pelaksanaan TE
Setelah seleksi embrio dan resipient langkah awal adalah melakukan superovulasi.
Prinsip dasar dari superovulasi adalah ovulasi terjadi lebih dari satu kali
sehingga menghasilkan oosit lebih banyak dengan cara memberikan ransangan
berupa hormone gonadotrophin diikuti oleh kontrol luteolisis,,
sinkronisasi ovulasi, fertilisasi dan perkembangan embrio awal.
Kemudian dilanjutkan
dengan recovery embrio atau pemanenan embrio. Pada sapi dan
kerbau, umumnya embrio dipanen dengan metode non-bedah, di mana jenis kateter
khusus dimasukkan melalui serviks ke dalam kornea uterus dan embrio
siram dengan 250-300 ml media pembilasan. Tingkat pemanenan tergantung pada keahlian ATR dalam melakukan pembilasan, posisi embrio di dalam rahim,
waktu pemanenan, respons superovulasi dan viabilitas embrio. Biasanya dari satu pembilasan rata-rata 4-6 embrio dapat ditransfer embrio.
siram dengan 250-300 ml media pembilasan. Tingkat pemanenan tergantung pada keahlian ATR dalam melakukan pembilasan, posisi embrio di dalam rahim,
waktu pemanenan, respons superovulasi dan viabilitas embrio. Biasanya dari satu pembilasan rata-rata 4-6 embrio dapat ditransfer embrio.
Setelah embrio dipanen,
embrio dievaluasi. Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam mengevaluasi embrio
yaitu dengan metode pewarnaan dan metode morfologis yang dilihat dari
viabilitas embrio. Setelah itu embrio ditransfer ke resipien yang sudah
mengalami seleksi sebelumnya. Faktor penting dalam transfer embrio adalah
kualitas dari embrio yang akan ditransfer harus baik, kemudian embrio
dipindahkan ke tanduk uterus yang memiliki CL (Vijayalakshmy dkk, 2018).
Berikut adalah tahapan pelaksanaa TE baik secara invitro maupun invitro
pada sapi.
Gambar 1.
Proses pelaksanaan TE pada sapi
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Peningkatan
Produksi Susu Sapi Perah Melalui Aplikasi Transfer Embrio
Penerapan TE dapat meningkatkan produksi susu sapi perah. Hal ini
disebabkan karena anak berasal dari induk dan bapak yang memiliki genetik yang
unggul. Menurut Toba dkk (2014) Penerapan MOET (Multiple Ovulation Embrio Transfer)
pada sapi perah yang berasal dari parent unggul dapat meningkatkan produksi
susu sapi perah. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Wakchaure dan Ganguly (2015) yang
menyatakan bahwa penerapan MOET pada sapi perah dapat meningkatkan mutu genetik
ternak. Peningkatan produksi
susu ini berkorelasi dengan peningkatan pendapatan peternak disuatu daerah.
Penerapan MOET (Multiple Ovulation Embrio Transfer) dan Open Nukleus Breeding System (ONBS)
. ONBS dapat menjadi
temuan baru dalam pengembangan bioteknologi ternak seperti penentuan jenis
kelamin pada embrio, kloning embrio dan transfer gen. ONBS merupakan skema perkembangbiakan nucleus
secara terbuka. MOET - ONBS telah terbukti dapat meningkatkan mutu genetik yang
lebih baik, akurasi seleksi dan penurunan tingkat inbreeding serta interval
generasi menjadi lebih rendah.
Menurut Wakchaure dan Ganguly (2015) ONBS juga berperan
penting dalam rangka perbaikan mutu genetic ternak. Hal ini disebabkan karena
ONBS dapat mengurangi terjadinya inbreeding dibandingkan dengan sistem nukleus
tertutup (CNBS) karena sistem ONBS dapat menghasilkan keturunan yang unggul
secara genetic. Sistem ONBS yang dirancang secara efisien dapat menyebabkan
peningkatan 10-15% pertahun terhadap seleksi dan penurunan yang signifikan
dalam laju perkawinan sekerabat (inbreeding) dibandingkan dengan sistem
pembibitan nucleus tertutup.
1. Penerapan Transfer Embrio Menggunakan Kombinasi Hormon GnRH, Progesteron dan Estradiol pada Sapi Pesisir
Penerapan TE dapat menjadi solusi dalam pengembangan ternak. Kendala
yang paling sering ditemukan dalam pengembangan ternak adalah kesulitan dalam
mendeteksi estrus dan fertilitas ternak yang rendah. Menurut Ganzebu (2015)
penerapan TE direkombinasikan dalam meningkatkan mutu genetik ternak apabila tahapan
prosesnya meliputi produksi, pemilihan donor dan resipien,
prosedur transfer embrio serta manajemen sebelum transfer embrio yang dapat
menjadi solusi efektif dalam meningkatkan kesuburan ternak.
Udin dkk (2018) telah
meneliti mengenai penerapan TE dengan menggunakan hormone GnRH, Progesteron dan
Estradiol pada tahapan superovulasi. Dimana perlakuan sinkronisasi superovulasi
sebelum pelaksanaan TE pada sapi Pesisir dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel
2.
Tabel
1. Superovulasi
dengan kombinasi Progesteron + PGF2a (A)
Tabel
2. Superovulasi
dengan kombinasi Progesteron + Estradiol (B)
Dari
hasil penelitian Udin dkk (2018) didapatkan
bahwa jumlah CL dan diameter ukuran ovulasi dari masing-masing
perlakuan. Perlakuan (A) memberikan ukuran folikel ovulasi lebih besar
dibandingkan dengan perlakuan (B) dan ukuran CL perlakuan (A) dan (B) hampir
sama. Sedangkan untuk jumlah folikel dominant, jumlah CL dan jumlah embryo
dapat dilihat pada Tabel 3
Tabel
3. Jumlah
folikel dominant, CL dan embryo
Perlakuan A
memberikan folikel dominant yang siap ovulasi dan total folikel lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan B. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan A
memberikan keberhasilan FTAI (fix time artificial insemination) yang paling
baik. Hal ini disebabkan karena injeksi GnRH akan meningkatkan fungsi ovarium
yang menginduksi terjadinya ovulasi, sedangkan progesteron berperan dalam
menjaga kehidupan embryo (Udin dkk, 2018). Hal ini juga berkolerasi dengan kualitas
embryo dan presentase embryo yang dapat dipindahkan kepada resipien.
Semakin
banyak jumlah embrio dari betina unggul yang dapat ditransfer maka semakin baik
pelaksanaan program TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.
2. Tingkat Respon Superovulasi dan Produksi Embrio In-Vivo dengan Sinkronisasi CIDR (Controlled Internal Drug Releasing)
Tingkat respon donor terhadap perlakuan superovulasi
dan rendahnya perolehan embrio setiap kali
pemanenan menjadi salah satu faktor penghambat produksi embrio dalam
pengembangan teknologi TE selain itu tingkat kerusakan embrio serta ovum yang
tidak terbuahi pada proses produksi embrio masih menjadi masalah yang perlu
dicari solusinya. Menurut Jodiansyah dkk (2013) Salah satu upaya yang dapat
dilakukan dalam meminimalisir hal tersebut adalah dengan pengembangan metode
superovulasi yang dikombinasikan dengan penggunaan CIDR (Controlled Internal
Drug Releasing). Penggunaan CIDR ditujukan untuk sinkronisasi
perkembangan folikel pada sapi yang akan disuperovulasi. CIDR mengandung
hormone progesterone. Progesteron dihasilkan oleh corpus luteum (CL). Banyaknya
CL diovarium setelah pemberian CIDR menunjukkan gambaran mengenai keberhasilan
pelaksanna superovulasi.
Kadar progesterone yang tinggi pada fase luteal
diharapkan dapat membantu dalam peningkatan sensitifitas folikel- folikel
primer yang ada terhadap perlakuan superovulasi dengan menggunakan FSH (Follicle
Stimulating Hormone). Semakin meningkatnya sensitifitas gelombang
folikel terhadap hormon FSH diharapkan akan meningkatkan jumlah folikel yang
akan berkembang dan mengalami pematangan.
Menurut hasil penelitian Jodiansyah dkk, (2012)
penggunaan CIDR terhadap jumlah embrio yang layak transfer dan embrio tidak
layak transfer dibandingkan dengan birahi alami dapat dilihat pada Tabel 4.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah embrio yang
layak transfer dengan penggunaan CIDR lebih sedikit dibandingkan dengan birahi
alami. Faktor yang dapat mempengaruhi tinggi dan rendahnya embrio yang layak
transfer adalah faktor fisiologis pada saat pemanenan embrio dilakukan serta
kadar progesterone yang beperan dalam menjaga kehidupan embrio.
Tabel 4.
Jumlah embrio yang layak transfer dan tidak layak transfer
Oleh
karena itu penggunaan CIDR dalam pelaksanaan superovulasi pada penerapan TE
dipenelitian ini belum memberikan hasil terbaik dalam peningkatan jumlah embrio
yang dapat ditransfer, sehingga dapat diasumsikan bahwa penggunaan CIDR tidak
memiliki pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan superovulasi pada penerapan
teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.
3. Pengaruh Penambahan Choronic Gonadotrophin pada Medium Maturasi terhadap Kemampuan Maturasi, Fertilisasi dan Perkembangan Embrio Secara In-vitro pada Kambing
Menurut hasil penelitian
Adifa, dkk (2010) memaparkan bahwa penambahan chorionic
gonadotrophin dalam medium maturasi tidak meningkatkan angka maturasi,
fertilisasi, dan pembelahan embrio pada kambing PE secara in vitro.
Angka maturasi, fertilisasi, dan pembelahan embrio yang paling baik adalah
menggunakan medium tanpa penambahan chorionic gonadotrophin. Hasil
penelitian lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 5
Tabel
5. Persentase
oosit yang matur, fertilisasi dan unfertilisasi dari kelompok perlakuan
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa
total jumlah oosit matur yang diamati dengan penambahan choronic gonadotrophin 10µl/10ml lebih banyak dibandingan dengan
penambahan 20µl/10ml dan tanpa penambahan choronic
gonadotrophin, akan tetapi oosit yang tidak terfertilisasi dan yang
terfertilisasi memiliki presentase yang hampir sama. Hal tersebut terjadi
karena kualitas oosit yang digunakan pada penelitian hampir seragam, yaitu
kualitas 1, 2, dan 3, dan berasal dari folikel yang berukuran 3,1–6,0 mm,
sehingga pengaruh penambahan chorionic gonadotrophin pada medium
maturasi, fertilisasi dan unfertilisasi tidak terlihat Adifa, dkk (2010).
Maturasi
oosit dan fertilisasi oosit ini berpengaruh terhadap produksi embrio secara
invitro. Hal ini juga berkorelasi dengan peningkatan jumlah embrio yang dapat
ditransfer ke resipien dalam pelaksanaan teknologi TE.
4. Evaluasi Kecendrungan Genetik pada Sapi Perah dalam Pelaksanaan MOET
Penerapan teknologi TE dapat
meningkatkan produksi ternak terutama pada ternak perah dan ternak potong.
Hampir semua studi menunjukkan bahwa teknologi pemuliaan dengan MOET dapat
meningkatkan respons genetik yang lebih baik dari pada program IB, hal ini
disebabkan karena MOET memberikan hasil interval generasi yang lebih pendek,
menghasilkan keturunan dari betina yang memiliki genetik unggul. Tetapi dalam
pelaksanaannya MOET memiliki keterbatasan seperti rendahnya rata-rata dan
tingkat keragaman pada embrio betina. Keterbatasan ini dapat diatasi dengan
memanen sel telur secara non-bedah dari betina dan selanjutnya pematangan dan
fertilisasi dilakukan secara invitro agar jumlah embrio yang dapat ditransfer
lebih banyak (Hossein dan Zadeh, 2010).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan MOET dapat
menghasilkan peningkatan substansial dalam perbaikan genetik. Tetapi tercatat
bahwa tingkat inbreeding juga akan meningkatkan penurunan genetik. Hasil
penelitian Hossein dan Zadeh (2010) memberikan informasi mengenai perubahan
genetik pada sapi perah sebagai akibat dari penerapan MOET dengan produksi susu
sebagai tujuan dari seleksi. Dimana dengan teknologi MOET ini produksi susu
sapi perah dapat ditingkatkan karena berasal dari induk yang memiliki genetik
yang unggul.
5. Efek Pemberian Ekstrak Hipofisa Sapi Terhadap Respons Superovulasi Sapi Aceh dalam Pelaksanaan TE
Dalam peningkatan populasi sapi Aceh di
Indonesia diperlukan penerapan teknologi. Salah satunya adalah Transfer
Embrio. Langkah-langkah utama
dalam pelaksanaan TE salah satunya adalah pelaksanaan superovulasi.
Superovulasi bertujuan menambah jumlah ovulasi dalam suatu periode berahi dari
seekor hewan betina melalui stimulasi hormon gonadotropin
Menurut
hasil penelitian Arum dkk (2015) Pemberian ekstrak hipofisa sapi dapat
meningkatkan respons superovulasi sebelum pelaksanaan TE pada sapi aceh yang ditandai dengan
peningkatan jumlah korpus luteum dan embrio. Untuk hasil lebih lanjut dapat
dilihat pada Tabel 6
Tabel 6. Respon Superovulasi dengan pemberian
ekstrak hipofisa
Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa semua
akseptor menunjukkan respon birahi, memiliki CL dan menghasilkan embrio setelah
pemberian ekstrak hipofisa, akan tetapi jumlah embrio yang layak ditransfer
hanya 1 embrio saja. Menurut Arum dkk (2015) Rendahnya
jumlah embrio yang layak transfer disebabkan oleh banyaknya ovum yang tidak
dibuahi akibat kegagalan fertilisasi, dimana pada saat penelitiannya ternak
sapi selalu berada dikandang sehingga memperbesar peluang terjadinya berahi
tenang (silent heat). Berahi tenang dapat menyebabkan penentuan waktu
inseminasi yang kurang optimal sehingga jumlah ovum yang tidak dibuahi tinggi dan
tingkat fertilisasi rendah.
6. Pengaruh Suplementasi Fetal Calf Serum (FCS) Terhadap Kemampuan Maturasi In Vitro Oosit Sapi dalam Meningkatkan Keberhasilan Pelaksanaan TE
Untuk pelaksanaan TE maka dibutuhkan
embrio dalam jumlah yang banyak. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
dengan aplikasi teknologi in vitro fertilization (IVF) meliputi in
vitro maturation (IVM) dan in vitro culture (IVC).
Ovarium sapi yang berasal
dari rumah potong hewan (RPH) sesaat setelah penyembelihan dapat dimanfaatkan
sebagai sumber oosit untuk keperluan in vitro maturasi sehingga dapat
memudahkan pelaksanaan fertilisasi in vitro (Pujol dkk., 2004), namun keberhasilan IVF
sampai ke tahap blastosist sangat tergantung pada beberapa faktor diantaranya
jenis suplemen yang digunakan dalam media maturasi in vitro (Hammam dkk., 2010). Hasil penelitian Daoed dkk (2013) memaparkan bahwa
Suplementasi FCS dalam media maturasi dapat meningkatkan angka maturasi dan
dapat memperbaiki kualitas maturasi in vitro oosit sapi berdasarkan grade-nya.
Hasil penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh penambahan FCS terhadap
maturasi oosit dapat dilihat pada Tabel 7
Tabel 7. Presentase
oosit yang matur
Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa penambahan FCS
memiliki presentase yang lebih tinggi terhadap jumlah oosit yang matur. Hal ini
disebabkan karena fungsi FCS yang dapat
menyediakan protein bagi oosit selama proses maturasi, selain itu FCS juga
memiliki peranan yang penting yang dibutuhkan oleh FSH dalam proses terjadinya
ekspansi sel-sel kumulus, memperbaiki viabilitas sel, dan menyelesaikan
pembelahan meiosis pertama sehingga oosit yang dihasilkan memiliki kualitas
yang baik (Daoed dkk, 2013).
7. Teknik Biopsi Embrio dalam Menjaga Viabilitas Embrio Sebelum Pelaksanaan TE
Teknik
Biopsi atau teknik pemanenan embrio merupakan satu satu langkah dalam mencegah
kerusakan zona peluicida oosit pada saat pemanenan embrio serta dapat menjaga
kualitas dari embrio sebelum ditransfer. Hasil penelitian Cenariu dkk (2012)
memaparkan bahwa teknik biopsy menggunakan jarum memiliki angka keberhasilan
pelaksanaan TE paling baik dibandingkan dengan teknik aspirasi.
8. Strategi Peningkatan Kondisi Tubuh Ternak Resipien Transfer Embrio Melalui Perbaikan Manajemen Pakan
Salah satu permasalahan dari teknologi TE adalah
strategi pemeliharaan pada induk resipien, dimana induk resipien sulit
mempertahankan status kebuntingan karena asupan gizi dan nutrisi yang kurang. Perbaikan
manajemen pemberian pakan dapat dijadikan solusi dalam pemenuhan asupan nutrisi
bagii nduk resipien (Fariani dkk, 2011).
Hasil penelitian Fariani dkk (2011) memaparkan bahwa
frekuensi pemberian pakan menjadi 3 kali sehari (pagi, siang dan sore), pemberian obat cacing dan vitamin, pemberian
suplemen probiotik dan penambahan daun legume gamal setiap harinya dapat
meningkatkan kondisi tubuh ternak induk resipien sebelum embrio ditransferkan
ke dalam uterusnya. Kondisi BCS ternak yang perlakuan ini menunjukkan angka 3-4
sesuai dengan persyaratan TE.
Peningkatan kondisi tubuh ternak setelah perbaikan
manajemen ini disebabkan karena nutrisi yang terkandung dan pola pemberian
pakan pada induk resipien. Fariani dkk (2011) menyatakan bahwa pemberian
probiotik pada calon induk resipien itu dapat meningkatkan bobot badan sapi dan
status reproduksi sapi.
9. Dampak Bio-Ekonomi dari Program MOET dalam Pengembangan Sumber Daya Genetik
Menurut Toba dkk (2014) Penerapan MOET dapat
meningkatkan keragaman hayati ternak domestic ataupun lokal dan memperbaiki
Bio-Ekonomi suatu daerah, hal ini disebabkan karena penerapan MOET dapat
meningkatkan populasi ternak disuatu daerah dan dengan cepat mentransfer
genetic ternak yang unggul dari daerah satu kedaerah lainnya, selain itu
penerapan teknologi MOET yang dilakukan dengan sebaik mungkin sesuai dengan
prosedur dan persyaratan TE dapat meminimalisir penggunaan biaya penularan
penyakit.
IV. KESIMPULAN
TE merupakan
suatu rangkaian proses bioteknologi mulai dari pemilihan sapi donor dan
resipien, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi buatan, koleksi embrio,
penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada
pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran yang memiliki banyak manfaat salah
satunya adalah perbaikan mutu genetic, karena gen berasal dari induk dan bapak
unggul.
Beberapa
strategi dalam meningkatkan keberhasilan pelaksanaan TE dalam meningkatkan mutu
genetic adalah dengan penerapan ONBS dalam pelaksanaan MOET dalam mengatasi
inbreeding, penggunaan GnRH dan progesterone dalam pelaksanaan superovulasi, pemberian
ekstrak hipofisa sapi dapat meningkatkan respons superovulasi sebelum
pelaksanaan TE, pemberian suplementasi FCS pada teknologi invitro vertilisasi
dalam meningkatkan maturasi oosit, pelaksanaan teknik biopsy dengan menggunaka
teknik jarum, dan perbaikan manajemen pemberian pakan untuk ternak resipien.
Penerapan teknologi TE dapat meningkatkan
bio-ekonomi disuatu daerah. Hal ini disebabkan karena MOET dapat menghasilkan
embrio lebih dari satu sehingga dapat meningkatkan populasi ternak unggul.
DAFTAR PUSTAKA
Adifa, N.S., P.
Astuti dan D.T. Widayati. 2010. Pengaruh Penambahan Chorionic Gonadotrophin Pada
Medium Maturasi terhadap Kemampuan Maturasi, Fertilisasi, dan Perkembangan
Embrio Secara In Vitro Kambing Peranakan Ettawa. Buletin Peternakan. 34
(1) : 8-15
Arum, W.P., T.N
Siregar dan J. Melia. 2013. Efek Pemberian Ekstrak Hipofisa
Sapi terhadap Respons Superovulasi Sapi Aceh. Jurnal Medika Veterinaria. 7 (2)
: 71-74.
Cenariu, M., E. Pall, C. Cernea, and I. Groza. 2012.
Evaluation of Bovine Embryo Biopsy Techniques
according to Their Ability to Preserve Embryo Viability. Reseach Articel. Journal of Biomedicine and
Biotechnology. 2012 : 1-5
Daoed, D.M., N. Ngadiyono dan D.T. Widayati. 2013.
Pengaruh Suplementasi Fetal Calf Serum Terhadap Kemampuan Maturasi In
Vitro Oosit Sapi. Buletin Peternakan. 37 (3): 136-142
Fariani, A., A. Abrar dan G. Muslim. 2011. Strategi
Peningkatan Skor Kondisi Tubuh Sapi BX Calon Resipien Transfer Embrio Kembar
Melalui Perbaikan Manajemen dan Pakan Berbasis Bahan Baku Lokal. Prosiding
Semirata BKS PTN Wilayah Barat.
Genzebu, D., 2015. A
Reviewe of embryo transfer technology in cow. Global journal of Animal Science
research. 3: 562-575
Hammam,
A. M., C. S. Whisnant, A. Elias, S. M. Zaabel, A. O. Hegab and E. M. Abu-El
Naga. 2010. Effect of media, sera and hormones on in vitro maturation
and fertilization of water buffallos (bubalus bubalis). J. Anim. Vet.
Adv. 9: 27-31.
Hossein, N. G dan
Zadeh. 2010. Evaluation of the genetic trend of milk yield in the multiple
ovulation and embryo transfer populations of dairy cows, using stochastic
simulation. Science Direct. 333 : 710-715.
Pujol,
M., M. L. Bejar and M. T. Paramio. 2004. Developmental competence of heifer
oocytes selected using the brilliant cresyl blue (BCB) test. Theriogenology 61:
35-44.
Situmorang, P dan
Endang, T. 2004. Aplikasi dan Inovasi Teknologi Transfer Embrio (TE) untuk Pengembangan
Sapi Potong. Lokakarya Nasioanal Sapi Potong. Bogor
Situmorang, P., A.
Lubis., E. Triwulaningsih., I.G Putu dan K. Diwyanto. 1998. Pengaruh pemberian
FSH pada hari ke-I siklus berahi,flushing pada waktu berahi terhadap respons
sapi perah yang kemudian mendapat perlakuan superovulasi. Prosiding seminar
nasional Peternakan dan Veteriner.2:289
Udin, Z., Hendri and
Masrizal. 2018. Application of Embryo Transfer Technology to Improve Fertility
using GnRH Plus Progesterone and Estradiol Combination (FTAI) of Local South
Pesisir Cow in West Sumatra. International Journal on ASEIT. 8 (6) : 2531-2538
Toba, G.T., M. T.
Paraschivescua, A. Bogdana, and M. Sandua. 2014. The bio-economic impact of the
MOET program for the development of vulnerable genetic resources through
eco-innovative reproduction biotechnologies. Elsevier. 8 ( 2014 )
696 – 703.
Vijayalakshmy, K., J. Manimegalai, R.Verma and V. Chaudhiry. 2018. Embryo
transfer technology in animals: An overview. JEZS. 6
(5): 2215-2218
Wakchaure, R and S. Ganguly. 2015. Multiple
Ovulation Embryo Transfer (MOET) - Nucleus Breeding Scheme: A Review. IJEIT. 5
(2) : 105-107
Tidak ada komentar:
Posting Komentar