Rabu, 18 Maret 2020

TRANSFER EMBRIO SEBAGAI TEKNOLOGI PEMULIAAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN MUTU GENETIK TERNAK


I.                   PENDAHULUAN


1.1.       Latar Belakang


            Sapi merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang berpotensi dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Sapi memiliki peranan yang penting dalam pemenuhan protein hewani nasional, yaitu sebagai penghasil daging dan susu. Menurut Badan Pusat Statistik (2019) Populasi sapi perah di Indonesia pada tahun 2012 terjadi penurunan yaitu dari 611.940 ekor/tahun menjadi 444.266 ekor/tahun. Hal ini juga terjadi pada sapi potong pada tahun 2012 yaitu dari 15.980.696 ekor/tahun menjadi 12.686.239 ekor/tahun. Penurunan populasi sapi ini disebabkan karena manajemen perkawinan belum terkontrol, sistem pemeliharaan belum baik, dan keterbatasan genetik unggul. Permasalahan ini dapat diatasi dengan melakukan penerapan teknolog reproduksii. Salah satunya adalah teknologi Transfer Embrio (TE).

          Transfer embrio (TE) merupakan salah satu teknologi reproduksi yang berkembang di berbagai Negara termasuk Indonesia. TE merupakan suatu rangkaian proses bioteknologi mulai dari pemilihan sapi donor dan resipien, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi buatan, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran. TE memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan dari sifat kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga dapat memperbaiki mutu genetik ternak. Selain itu, penerapan  TE pada betina unggul yang disuperovulasi kemudian diinseminasi dengan sperma pejantan unggul dapat menghasilkan sekitar 40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun, bila dibandingkan dengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun.

          Aplikasi TE di Indonesia dimulai pada tahun 1980-an. Saat ini penelitian dan  penguasaan teknologi telah dilakukan dan dikembangkan oleh berbagai institusi, seperti Balitnak, Balai Embrio Ternak, LIPI dan  beberapa Perguruan Tinggi seperti IPB, UGM, Brawijaya, Airlangga dan lain-lain. Keberhasilan teknologi TE di Indonesia masih sangat  beragam dan dampaknya untuk perkembangan maupun peningkatan produktivitas ternak masih sangat minimal. Program untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi TE masih belum terfokus dengan baik. Padahal teknologi ini merupakan salah satu wahana yang sangat penting dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak (Situmorang dan Endang, 2004).

1.2.       Rumusan Masalah


Bagaimana perkembangan ilmu dan penerapan teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetik ternak ?

1.3.        Tujuan


           Untuk mengetahui sejauh mana hasil penelitian dalam perkembangan ilmu dan penerapan teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.

1.4.     Manfaat


          Dapat memberikan informasi dan referensi mengenai hasil-hasil penelitian dalam pelaksanaan teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.




II.           TINJAUAN PUSTAKA


2.1.       Transfer Embrio (TE)


TE merupakan aplikasi bioteknologi reproduksi yang akhir-akhir ini sedang berkembang pesat dimana kegiatannya mencakup produksi, penanganan dan transfer embrio. Produksi embrio dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro. Keberhasilan TE pertama kali dilaporkan pada kelinci, tahun 1891 di Inggris dan pada domba  pada tahun 1934, pada sapi, kerbau dan babi pada tahun 1951  dan  pada kuda tahun 1974 (Situmorang dan Endang, 2004). Pemanfaatan teknologi ini pada mulanya dipergunakan dalam perdagangan ternak, terutama yang pada waktu itu dilindungi. Saat ini perdagangan embrio sudah sangat meluas, melalui penjualan embrio beku yang disimpan dalam nitrogen cair (Situmorang dan Endang, 2004).

Menurut Vijayalakshmy dkk (2018) Tujuan utama transfer embrio adalah untuk meningkatkan angka konsepsi, peningkatan jumlah keturunan per tahun dari ternak betina unggul atau yang memiliki genotipe unggul, membantu dalam meningkatkan produksi komersial dan juga dapat meningkatkan potensi genetik
ternak. Teknik transfer embrio memberikan laju peningkatan genetik yang cepat
dari kualitas keturunan yang dihasilkan dengan biaya yang relatif lebih rendah daripada membeli ternak hidup.

Produksi embrio secara in vivo juga dikenal dengan teknologi Multiple Ovulation Embrio Transfer (MOET). Teknologi ini sudah sangat luas di aplikasikan di berbagai Negara seperti di Eropa, Amerika, Jepang, Australia dan Negara maju lainnya. Tujuan dari teknologi ini adalah untuk menghasilkan embrio yang banyak dalam satu kali siklus. Hal ini dapat dicapai dengan penyuntikan hormon gonadotrophin (FSH, PMSG) secara intra muscular pada siklus berahi hari ke 10. Penyuntikan PMSG dilakukan satu kali penyuntikan sedang FSH diberikan umumnya 2 x sehari dengan interval waktu 12 jam selama 3-5 hari pemberian (Situmorang dan Endang, 2004). Beberapa penelitian menunjukkan pemberian hCG atau penyuntikan FSH tunggal pada siklus berahi hari 1 dapat meningkatkan jumlah embrio yang tertampung (Situmorang dkk, 1998).

Faktor penghambat teknologi MOET ini adalah respons donor yang masih sangat bervariasi terhadap perlakuan hormon sehingga satu individu dapat menghasilkan sampai 30 embrio sedang individu yang lain tidak ada dan hal ini baru dapat diketahui setelah pemberian hormone. Disamping itu harga hormon yang cukup tinggi juga menjadi faktor pembatas didalam aplikasi teknologi MOET.

TE secara in vitro memiliki 3 aspek utama yaitu pematangan sel telur pembuahan sel teur dan pembiakan embrio secara in vitro. Sel telur umumnya didapat dari ovarium yang berasal dari rumah potong hewan. Sel telur dikumpulkan dengan metode aspirasi maupun slicing kemudian dimatangkan secara in vitro. Pematangan dilakukan pada media yang umumnya mengandung hormon estrogen, FSH, LH, prolactin, progesteron ataupun protein ovarium dan peptida (Situmorang dan Endang, 2004). Hormon yang paling umum digunakan saat ini adalah FSH, estrogen dan LH. Keberhasilan pembuahan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas spermatozoa.

2.2.       Prinsip Pelaksanaan Teknologi TE


Prinsip utama dari teknologi TE adalah untuk mengeksploitasi kapasitas reproduksi betina unggul agar dapat menghasilkan lebih banyak keturunan, dan melestarikan bahan genetic unggul dalam transfer genetic. Selain itu teknologi ini juga dapat meningkatkan angka kelahiran kembar dengan cara manipulasi embrio, pemendekan interval generasi, dan pelaksanaan ekspor dan impor bahan genetic yang unggul dan melestarikan genetic yang terancam punah (Vijayalakshmy dkk, 2018).

2.3.       Pemilihan Donor dan Resipien dalam Pelaksanaan TE


Menurut Vijayalakshmy dkk, (2018) Faktor-faktor harus dipertimbangkan untuk pemilihan donor dan resipien adalah betina yang memiliki genetic unggul, kondisi fisiologis sehat (reproduksi normal, tidak memiliki riwayat penyakit, berpotensi secara ekonomi, sudah menghasilkan keturunan).

Untuk sapi perah dianjurkan untuk memilih ternak yang memiliki indeks sapi yang tinggi, yaitu ukuran kemampuan transmisi genetik untuk produksi susu, dan kandungan lemak serta protein susu.

2.4.       Tahapan Pelaksanaan TE


Menurut Vijayalakshmy dkk, (2018) Tahapan dari pelaksanaan TE dapat dilihat pada Bagan 1.

Bagan 1. Tahapan pelaksanaan TE


Setelah seleksi embrio dan resipient  langkah awal adalah melakukan superovulasi. Prinsip dasar dari superovulasi adalah ovulasi terjadi lebih dari satu kali sehingga menghasilkan oosit lebih banyak dengan cara memberikan ransangan berupa hormone gonadotrophin diikuti oleh kontrol luteolisis,, sinkronisasi ovulasi, fertilisasi dan perkembangan embrio awal. Kemudian dilanjutkan dengan recovery embrio atau pemanenan embrio. Pada sapi dan kerbau, umumnya embrio dipanen dengan metode non-bedah, di mana jenis kateter khusus dimasukkan melalui serviks ke dalam kornea uterus dan embrio
siram dengan 250-300 ml media pembilasan. Tingkat pemanenan  tergantung pada keahlian ATR dalam melakukan pembilasan, posisi embrio di dalam rahim,
waktu pemanenan, respons superovulasi dan viabilitas embrio. Biasanya dari satu pembilasan rata-rata 4-6 embrio dapat ditransfer embrio.

Setelah embrio dipanen, embrio dievaluasi. Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam mengevaluasi embrio yaitu dengan metode pewarnaan dan metode morfologis yang dilihat dari viabilitas embrio. Setelah itu embrio ditransfer ke resipien yang sudah mengalami seleksi sebelumnya. Faktor penting dalam transfer embrio adalah kualitas dari embrio yang akan ditransfer harus baik, kemudian embrio dipindahkan ke tanduk uterus yang memiliki CL (Vijayalakshmy dkk, 2018).

Berikut adalah tahapan pelaksanaa TE baik secara invitro maupun invitro pada sapi.

  

Gambar 1. Proses pelaksanaan TE pada sapi






III.             HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.       Peningkatan Produksi Susu Sapi Perah Melalui Aplikasi Transfer Embrio

Penerapan TE dapat meningkatkan produksi susu sapi perah. Hal ini disebabkan karena anak berasal dari induk dan bapak yang memiliki genetik yang unggul.  Menurut Toba dkk (2014) Penerapan MOET (Multiple Ovulation Embrio Transfer) pada sapi perah yang berasal dari parent unggul dapat meningkatkan produksi susu sapi perah. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Wakchaure dan Ganguly (2015) yang menyatakan bahwa penerapan MOET pada sapi perah dapat meningkatkan mutu genetik ternak. Peningkatan produksi susu ini berkorelasi dengan peningkatan pendapatan peternak disuatu daerah.







Penerapan MOET (Multiple Ovulation Embrio Transfer) dan Open Nukleus Breeding System (ONBS)


.  ONBS dapat menjadi temuan baru dalam pengembangan bioteknologi ternak seperti penentuan jenis kelamin pada embrio, kloning embrio dan transfer gen.  ONBS merupakan skema perkembangbiakan nucleus secara terbuka. MOET - ONBS telah terbukti dapat meningkatkan mutu genetik yang lebih baik, akurasi seleksi dan penurunan tingkat inbreeding serta interval generasi menjadi lebih rendah.

Menurut Wakchaure dan Ganguly (2015) ONBS juga berperan penting dalam rangka perbaikan mutu genetic ternak. Hal ini disebabkan karena ONBS dapat mengurangi terjadinya inbreeding dibandingkan dengan sistem nukleus tertutup (CNBS) karena sistem ONBS dapat menghasilkan keturunan yang unggul secara genetic. Sistem ONBS yang dirancang secara efisien dapat menyebabkan peningkatan 10-15% pertahun terhadap seleksi dan penurunan yang signifikan dalam laju perkawinan sekerabat (inbreeding) dibandingkan dengan sistem pembibitan nucleus tertutup.

1.             Penerapan Transfer Embrio Menggunakan Kombinasi Hormon GnRH, Progesteron dan Estradiol pada Sapi Pesisir


Penerapan TE dapat menjadi solusi dalam pengembangan ternak. Kendala yang paling sering ditemukan dalam pengembangan ternak adalah kesulitan dalam mendeteksi estrus dan fertilitas ternak yang rendah. Menurut Ganzebu (2015) penerapan TE direkombinasikan dalam meningkatkan mutu genetik ternak apabila tahapan prosesnya meliputi produksi, pemilihan donor dan resipien, prosedur transfer embrio serta manajemen sebelum transfer embrio yang dapat menjadi solusi efektif dalam meningkatkan kesuburan ternak.

Udin dkk (2018) telah meneliti mengenai penerapan TE dengan menggunakan hormone GnRH, Progesteron dan Estradiol pada tahapan superovulasi. Dimana perlakuan sinkronisasi superovulasi sebelum pelaksanaan TE pada sapi Pesisir dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Superovulasi dengan kombinasi Progesteron + PGF2a (A)


Tabel 2. Superovulasi dengan kombinasi Progesteron + Estradiol (B)


            Dari hasil penelitian Udin dkk (2018) didapatkan  bahwa jumlah CL dan diameter ukuran ovulasi dari masing-masing perlakuan. Perlakuan (A) memberikan ukuran folikel ovulasi lebih besar dibandingkan dengan perlakuan (B) dan ukuran CL perlakuan (A) dan (B) hampir sama. Sedangkan untuk jumlah folikel dominant, jumlah CL dan jumlah embryo dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3. Jumlah folikel dominant, CL dan embryo


            Perlakuan A memberikan folikel dominant yang siap ovulasi dan total folikel lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan B. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan A memberikan keberhasilan FTAI (fix time artificial insemination) yang paling baik. Hal ini disebabkan karena injeksi GnRH akan meningkatkan fungsi ovarium yang menginduksi terjadinya ovulasi, sedangkan progesteron berperan dalam menjaga kehidupan embryo (Udin dkk, 2018). Hal ini juga berkolerasi dengan kualitas embryo dan presentase embryo yang dapat dipindahkan kepada resipien.

            Semakin banyak jumlah embrio dari betina unggul yang dapat ditransfer maka semakin baik pelaksanaan program TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.

2.             Tingkat Respon Superovulasi dan Produksi Embrio In-Vivo dengan Sinkronisasi CIDR (Controlled Internal Drug Releasing)


Tingkat respon donor terhadap perlakuan superovulasi  dan rendahnya perolehan embrio setiap kali pemanenan menjadi salah satu faktor penghambat produksi embrio dalam pengembangan teknologi TE selain itu tingkat kerusakan embrio serta ovum yang tidak terbuahi pada proses produksi embrio masih menjadi masalah yang perlu dicari solusinya. Menurut Jodiansyah dkk (2013) Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir hal tersebut adalah dengan pengembangan metode superovulasi yang dikombinasikan dengan penggunaan CIDR (Controlled Internal Drug Releasing). Penggunaan CIDR ditujukan untuk sinkronisasi perkembangan folikel pada sapi yang akan disuperovulasi. CIDR mengandung hormone progesterone. Progesteron dihasilkan oleh corpus luteum (CL). Banyaknya CL diovarium setelah pemberian CIDR menunjukkan gambaran mengenai keberhasilan pelaksanna superovulasi.

Kadar progesterone yang tinggi pada fase luteal diharapkan dapat membantu dalam peningkatan sensitifitas folikel- folikel primer yang ada terhadap perlakuan superovulasi dengan menggunakan FSH (Follicle Stimulating Hormone). Semakin meningkatnya sensitifitas gelombang folikel terhadap hormon FSH diharapkan akan meningkatkan jumlah folikel yang akan berkembang dan mengalami pematangan.

Menurut hasil penelitian Jodiansyah dkk, (2012) penggunaan CIDR terhadap jumlah embrio yang layak transfer dan embrio tidak layak transfer dibandingkan dengan birahi alami dapat dilihat pada Tabel 4.

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah embrio yang layak transfer dengan penggunaan CIDR lebih sedikit dibandingkan dengan birahi alami. Faktor yang dapat mempengaruhi tinggi dan rendahnya embrio yang layak transfer adalah faktor fisiologis pada saat pemanenan embrio dilakukan serta kadar progesterone yang beperan dalam menjaga kehidupan embrio.

Tabel 4. Jumlah embrio yang layak transfer dan tidak layak transfer


            Oleh karena itu penggunaan CIDR dalam pelaksanaan superovulasi pada penerapan TE dipenelitian ini belum memberikan hasil terbaik dalam peningkatan jumlah embrio yang dapat ditransfer, sehingga dapat diasumsikan bahwa penggunaan CIDR tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan superovulasi pada penerapan teknologi TE dalam meningkatkan mutu genetic ternak.

3.             Pengaruh Penambahan Choronic Gonadotrophin pada Medium Maturasi terhadap Kemampuan Maturasi, Fertilisasi dan Perkembangan Embrio Secara In-vitro pada Kambing


Menurut hasil penelitian Adifa, dkk (2010) memaparkan bahwa penambahan chorionic gonadotrophin dalam medium maturasi tidak meningkatkan angka maturasi, fertilisasi, dan pembelahan embrio pada kambing PE secara in vitro. Angka maturasi, fertilisasi, dan pembelahan embrio yang paling baik adalah menggunakan medium tanpa penambahan chorionic gonadotrophin. Hasil penelitian lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 5

Tabel 5. Persentase oosit yang matur, fertilisasi dan unfertilisasi dari kelompok  perlakuan


            Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa total jumlah oosit matur yang diamati dengan penambahan choronic gonadotrophin 10µl/10ml lebih banyak dibandingan dengan penambahan 20µl/10ml dan tanpa penambahan choronic gonadotrophin, akan tetapi oosit yang tidak terfertilisasi dan yang terfertilisasi memiliki presentase yang hampir sama. Hal tersebut terjadi karena kualitas oosit yang digunakan pada penelitian hampir seragam, yaitu kualitas 1, 2, dan 3, dan berasal dari folikel yang berukuran 3,1–6,0 mm, sehingga pengaruh penambahan chorionic gonadotrophin pada medium maturasi, fertilisasi dan unfertilisasi tidak terlihat Adifa, dkk (2010).

            Maturasi oosit dan fertilisasi oosit ini berpengaruh terhadap produksi embrio secara invitro. Hal ini juga berkorelasi dengan peningkatan jumlah embrio yang dapat ditransfer ke resipien dalam pelaksanaan teknologi TE.

4.             Evaluasi Kecendrungan Genetik pada Sapi Perah dalam Pelaksanaan MOET


Penerapan teknologi TE gies could enhance cattle production at several levels in bothdapat meningkatkan produksi ternak terutama pada ternak perah dan ternak potong. Hampir semua studi menunjukkan bahwa teknologi pemuliaan dengan MOET dapat meningkatkan respons genetik yang lebih baik dari pada program IB, hal ini disebabkan karena MOET memberikan hasil interval generasi yang lebih pendek, menghasilkan keturunan dari betina yang memiliki genetik unggul. Tetapi dalam pelaksanaannya MOET memiliki keterbatasan seperti rendahnya rata-rata dan tingkat keragaman pada embrio betina. Keterbatasan ini dapat diatasi dengan memanen sel telur secara non-bedah dari betina dan selanjutnya pematangan dan fertilisasi dilakukan secara invitro agar jumlah embrio yang dapat ditransfer lebih banyak (Hossein dan Zadeh, 2010).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan MOET dapat menghasilkan peningkatan substansial dalam perbaikan genetik. Tetapi tercatat bahwa tingkat inbreeding juga akan meningkatkan penurunan genetik. Hasil penelitian Hossein dan Zadeh (2010) memberikan informasi mengenai perubahan genetik pada sapi perah sebagai akibat dari penerapan MOET dengan produksi susu sebagai tujuan dari seleksi. Dimana dengan teknologi MOET ini produksi susu sapi perah dapat ditingkatkan karena berasal dari induk yang memiliki genetik yang unggul.

5.             Efek Pemberian Ekstrak Hipofisa Sapi Terhadap Respons Superovulasi Sapi Aceh dalam Pelaksanaan TE


Dalam peningkatan populasi sapi Aceh di Indonesia diperlukan penerapan teknologi. Salah satunya adalah Transfer Embrio.  Langkah-langkah utama dalam pelaksanaan TE salah satunya adalah pelaksanaan superovulasi. Superovulasi bertujuan menambah jumlah ovulasi dalam suatu periode berahi dari seekor hewan betina melalui stimulasi hormon gonadotropin

 Menurut hasil penelitian Arum dkk (2015) Pemberian ekstrak hipofisa sapi dapat meningkatkan respons superovulasi sebelum pelaksanaan TE pada sapi aceh yang ditandai dengan peningkatan jumlah korpus luteum dan embrio. Untuk hasil lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 6

Tabel 6. Respon Superovulasi dengan pemberian ekstrak hipofisa


            Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa semua akseptor menunjukkan respon birahi, memiliki CL dan menghasilkan embrio setelah pemberian ekstrak hipofisa, akan tetapi jumlah embrio yang layak ditransfer hanya 1 embrio saja. Menurut Arum dkk (2015) Rendahnya jumlah embrio yang layak transfer disebabkan oleh banyaknya ovum yang tidak dibuahi akibat kegagalan fertilisasi, dimana pada saat penelitiannya ternak sapi selalu berada dikandang sehingga memperbesar peluang terjadinya berahi tenang (silent heat). Berahi tenang dapat menyebabkan penentuan waktu inseminasi yang kurang optimal sehingga jumlah ovum yang tidak dibuahi tinggi dan tingkat fertilisasi rendah.

6.             Pengaruh Suplementasi Fetal Calf Serum (FCS) Terhadap Kemampuan Maturasi In Vitro Oosit Sapi dalam Meningkatkan Keberhasilan Pelaksanaan TE


Untuk pelaksanaan TE maka dibutuhkan embrio dalam jumlah yang banyak. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan aplikasi teknologi in vitro fertilization (IVF) meliputi in vitro maturation (IVM) dan in vitro culture (IVC).

Ovarium sapi yang berasal dari rumah potong hewan (RPH) sesaat setelah penyembelihan dapat dimanfaatkan sebagai sumber oosit untuk keperluan in vitro maturasi sehingga dapat memudahkan pelaksanaan fertilisasi in vitro (Pujol dkk., 2004), namun keberhasilan IVF sampai ke tahap blastosist sangat tergantung pada beberapa faktor diantaranya jenis suplemen yang digunakan dalam media maturasi in vitro (Hammam dkk., 2010). Hasil penelitian Daoed dkk (2013) memaparkan bahwa Suplementasi FCS dalam media maturasi dapat meningkatkan angka maturasi dan dapat memperbaiki kualitas maturasi in vitro oosit sapi berdasarkan grade-nya. Hasil penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh penambahan FCS terhadap maturasi oosit dapat dilihat pada Tabel 7

Tabel 7. Presentase oosit yang matur


Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa penambahan FCS memiliki presentase yang lebih tinggi terhadap jumlah oosit yang matur. Hal ini disebabkan karena fungsi FCS yang dapat menyediakan protein bagi oosit selama proses maturasi, selain itu FCS juga memiliki peranan yang penting yang dibutuhkan oleh FSH dalam proses terjadinya ekspansi sel-sel kumulus, memperbaiki viabilitas sel, dan menyelesaikan pembelahan meiosis pertama sehingga oosit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik (Daoed dkk, 2013).

7.             Teknik Biopsi Embrio dalam Menjaga Viabilitas Embrio Sebelum Pelaksanaan TE


Teknik Biopsi atau teknik pemanenan embrio merupakan satu satu langkah dalam mencegah kerusakan zona peluicida oosit pada saat pemanenan embrio serta dapat menjaga kualitas dari embrio sebelum ditransfer. Hasil penelitian Cenariu dkk (2012) memaparkan bahwa teknik biopsy menggunakan jarum memiliki angka keberhasilan pelaksanaan TE paling baik dibandingkan dengan teknik aspirasi.


8.             Strategi Peningkatan Kondisi Tubuh Ternak Resipien Transfer Embrio Melalui Perbaikan Manajemen Pakan


Salah satu permasalahan dari teknologi TE adalah strategi pemeliharaan pada induk resipien, dimana induk resipien sulit mempertahankan status kebuntingan karena asupan gizi dan nutrisi yang kurang. Perbaikan manajemen pemberian pakan dapat dijadikan solusi dalam pemenuhan asupan nutrisi bagii nduk resipien (Fariani dkk, 2011).

Hasil penelitian Fariani dkk (2011) memaparkan bahwa frekuensi pemberian pakan menjadi 3 kali sehari (pagi, siang dan sore),  pemberian obat cacing dan vitamin, pemberian suplemen probiotik dan penambahan daun legume gamal setiap harinya dapat meningkatkan kondisi tubuh ternak induk resipien sebelum embrio ditransferkan ke dalam uterusnya. Kondisi BCS ternak yang perlakuan ini menunjukkan angka 3-4 sesuai dengan persyaratan TE.

Peningkatan kondisi tubuh ternak setelah perbaikan manajemen ini disebabkan karena nutrisi yang terkandung dan pola pemberian pakan pada induk resipien. Fariani dkk (2011) menyatakan bahwa pemberian probiotik pada calon induk resipien itu dapat meningkatkan bobot badan sapi dan status reproduksi sapi.

9.             Dampak Bio-Ekonomi dari Program MOET dalam Pengembangan Sumber Daya Genetik


Menurut Toba dkk (2014) Penerapan MOET dapat meningkatkan keragaman hayati ternak domestic ataupun lokal dan memperbaiki Bio-Ekonomi suatu daerah, hal ini disebabkan karena penerapan MOET dapat meningkatkan populasi ternak disuatu daerah dan dengan cepat mentransfer genetic ternak yang unggul dari daerah satu kedaerah lainnya, selain itu penerapan teknologi MOET yang dilakukan dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan persyaratan TE dapat meminimalisir penggunaan biaya penularan penyakit.






IV.             KESIMPULAN


TE merupakan suatu rangkaian proses bioteknologi mulai dari pemilihan sapi donor dan resipien, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi buatan, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran yang memiliki banyak manfaat salah satunya adalah perbaikan mutu genetic, karena gen berasal dari induk dan bapak unggul.

Beberapa strategi dalam meningkatkan keberhasilan pelaksanaan TE dalam meningkatkan mutu genetic adalah dengan penerapan ONBS dalam pelaksanaan MOET dalam mengatasi inbreeding, penggunaan GnRH dan progesterone dalam pelaksanaan superovulasi, pemberian ekstrak hipofisa sapi dapat meningkatkan respons superovulasi sebelum pelaksanaan TE, pemberian suplementasi FCS pada teknologi invitro vertilisasi dalam meningkatkan maturasi oosit, pelaksanaan teknik biopsy dengan menggunaka teknik jarum, dan perbaikan manajemen pemberian pakan untuk ternak resipien.

Penerapan teknologi TE dapat meningkatkan bio-ekonomi disuatu daerah. Hal ini disebabkan karena MOET dapat menghasilkan embrio lebih dari satu sehingga dapat meningkatkan populasi ternak unggul.




DAFTAR PUSTAKA


Adifa, N.S., P. Astuti dan D.T. Widayati. 2010. Pengaruh Penambahan Chorionic Gonadotrophin Pada Medium Maturasi terhadap Kemampuan Maturasi, Fertilisasi, dan Perkembangan Embrio Secara In Vitro Kambing Peranakan Ettawa. Buletin Peternakan. 34 (1) : 8-15

Arum, W.P., T.N Siregar dan J. Melia. 2013. Efek Pemberian Ekstrak Hipofisa Sapi terhadap Respons Superovulasi Sapi Aceh. Jurnal Medika Veterinaria. 7 (2) : 71-74.

Cenariu, M., E. Pall, C. Cernea, and I. Groza. 2012. Evaluation of Bovine Embryo Biopsy Techniques according to Their Ability to Preserve Embryo Viability. Reseach Articel.  Journal of Biomedicine and Biotechnology. 2012 : 1-5

Daoed, D.M., N. Ngadiyono dan D.T. Widayati. 2013. Pengaruh Suplementasi Fetal Calf Serum Terhadap Kemampuan Maturasi In Vitro Oosit Sapi. Buletin Peternakan. 37 (3): 136-142

Fariani, A., A. Abrar dan G. Muslim. 2011. Strategi Peningkatan Skor Kondisi Tubuh Sapi BX Calon Resipien Transfer Embrio Kembar Melalui Perbaikan Manajemen dan Pakan Berbasis Bahan Baku Lokal. Prosiding Semirata BKS PTN Wilayah Barat.

Genzebu, D., 2015. A Reviewe of embryo transfer technology in cow. Global journal of Animal Science research. 3: 562-575

Hammam, A. M., C. S. Whisnant, A. Elias, S. M. Zaabel, A. O. Hegab and E. M. Abu-El Naga. 2010. Effect of media, sera and hormones on in vitro maturation and fertilization of water buffallos (bubalus bubalis). J. Anim. Vet. Adv. 9: 27-31.

Hossein, N. G dan Zadeh. 2010. Evaluation of the genetic trend of milk yield in the multiple ovulation and embryo transfer populations of dairy cows, using stochastic simulation. Science Direct. 333 : 710-715.

Pujol, M., M. L. Bejar and M. T. Paramio. 2004. Developmental competence of heifer oocytes selected using the brilliant cresyl blue (BCB) test. Theriogenology 61: 35-44.

Situmorang, P dan Endang, T. 2004. Aplikasi dan Inovasi Teknologi Transfer Embrio (TE) untuk Pengembangan Sapi Potong. Lokakarya Nasioanal Sapi Potong. Bogor

Situmorang, P., A. Lubis., E. Triwulaningsih., I.G Putu dan K. Diwyanto. 1998. Pengaruh pemberian FSH pada hari ke-I siklus berahi,flushing pada waktu berahi terhadap respons sapi perah yang kemudian mendapat perlakuan superovulasi. Prosiding seminar nasional Peternakan dan Veteriner.2:289

Udin, Z., Hendri and Masrizal. 2018. Application of Embryo Transfer Technology to Improve Fertility using GnRH Plus Progesterone and Estradiol Combination (FTAI) of Local South Pesisir Cow in West Sumatra. International Journal on ASEIT. 8 (6) : 2531-2538

Toba, G.T., M. T. Paraschivescua, A. Bogdana, and M. Sandua. 2014. The bio-economic impact of the MOET program for the development of vulnerable genetic resources through eco-innovative reproduction biotechnologies. Elsevier. 8  ( 2014 )  696 – 703.

Vijayalakshmy, K., J. Manimegalai, R.Verma and V. Chaudhiry. 2018. Embryo transfer technology in animals: An overview. JEZS. 6 (5): 2215-2218

Wakchaure, R and S. Ganguly. 2015. Multiple Ovulation Embryo Transfer (MOET) - Nucleus Breeding Scheme: A Review. IJEIT. 5 (2) : 105-107

Tidak ada komentar:

Posting Komentar