Rabu, 18 Maret 2020

SISTEM INTEGRASI ANTARA BIBIT, PAKAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI DALAM PENINGKATAN PRODUKSI SUSU KERBAU PERAH


PENDAHULUAN
 
Kerbau perah adalah ternak ruminansia besar yang berperan penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein hewani manusia seperti susu. Di Mesir, kerbau merupakan sumber utama industri susu yang berkontribusi lebih dari 70% per tahun. Susu kerbau sangat disukai oleh masyarakat Mesir karena kandungan lemak tinggi yang meningkatkan cita rasa (Arefaine dan Mokhtar, 2015) sehingga permintaan susu kerbau semakin meningkat. Akan tetapi, produksi susu kerbau sangat rendah yaitu 4-10 kg/hari (Ibrahim, 2012), hal ini juga berkolerasi dengan penurunan populasi kerbau setiap tahunnya.

Kerbau berpotensi baik untuk dikembangkan diseluruh Negara di Asia termasuk  Indonesia, sebab kerbau lebih mudah beradaptasi dengan pakan yang tersedia, rentan terhadap penyakit dan mampu bertahan hidup dengan iklim setempat. Akan tetapi di Indonesia populasi kerbau pada tahun 2017 mengalami penurunan (Badan Pusat Statistik, 2018). Penurunan populasi kerbau ini terjadi karena beberapa faktor, seperti ketersediaan dan kualitas pakan, bibit dan manajemen pemeliharaan belum terlaksana dengan baik terutama manajemen reproduksi. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan beberapa strategi dalam peningkatan populasi kerbau perah yang akhirnya berujung kepada peningkatan produksi susu kerbau. Strategi tersebut dapat berupa penerapan teknologi yang mengaitkan sistem integrasi antara bibit, pakan dan teknologi reproduksi.

Integrasi merupakan sistem yang mengkombinasikan antara komponen satu dengan lainnya yang ditunjang dengan penerapan teknologi. Penerapan sistem integrasi dapat menjadi solusi dalam mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam pengembangan pertanian dan peternakan (Mukhlis dkk, 2018) termasuk pengembangan ternak kerbau perah. Dengan menerapkan pola integrasi diharapkan dapat meningkatkan produksi susu kerbau di Asia terutama di Indonesia. Makalah ini akan membahas integrasi berbagai teknologi pakan, bibit dalam meningkatkan produksi susu kerbau perah.



TINJAUAN PUSTAKA

Kerbau Perah 

            Kerbau ( Bubalus bubalis ) berasal dari keluarga Bovidae, sub-keluarga Bovinae, genus bubalis dan spesies arni atau kerbau liar India. Kerbau diklasifikasikan menjadi dua kelas yang berbeda yaitu kerbau rawa dan kerbau sungai. Kerbau sungai memiliki 50 kromosom dan kerbau rawa memiliki 48 kromosom (Thomas, 2004). Kerbau rawa merupakan kerbau yang dipelihara degan tujuan untuk menghasilkan daging, menurut Thomas (2004) selain tujuan utama menghasilkan daging kerbau rawa juga menghasilkan susu tetapi produksinya lebih rendah dibandingkan dengan kerbau sungai yaitu 1-2 liter/hari. Sedangkan kerbau sungai produksi susunya mencapai 6-7 liter/hari dengan kandungan rata-rata lemak, protein, dan laktosa masing-masing 7,5 % 4,2% dan 5%, dengan energi lebih tinggi dari pada susu sapi. Beberapa jenis kerbau sungai yang paling banyak di pelihara di India dan Pakistan adalah kerbau Murrah, Nili-Ravi, Surti, Mehsana, Nagpuri, dan Jafarabadi.

Kerbau perah merupakan  sumber pasokan susu terbesar kedua di dunia. Pada tahun 2004, menurut statistik dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dunia produksi susu kerbau adalah 75,8 juta ton (Thomas, 2008). Kerbau perah merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani manusia seperti susu selain sapi. Di Italia, industri kerbau perah berkembang pesat karena popularitas keju mozzarella yang berbahan dasar susu kerbau sehingga industry kerbau perah sangat menguntungkan. Di negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina, kerbau dipelihara untuk susu dan daging (Thomas, 2004).

Susu kerbau mengandung total padatan, lemak, protein dan vitamin yang tinggi dibandingkan dengan susu sapi. Susu kerbau juga mengandung lebih sedikit kolesterol dan lebih banyak tokoferol (antioksidan alami).
 
            Di India kerbau perah yang banyak dipelihara adalah kerbau Murrah  Kerbau murrah berasal dari New Delhi India dan berkembang biak serta telah menyebar dari daerah lain India. Kerbau Surti dan Nili-Ravi diyakini telah berkembang dari Murrah melalui isolasi geografis (Thomas, 2008).

            Untuk pemilihan bibit kerbau perah, di Negara seperti Australia dan Selandia baru kerbau perah bibit dipilih berdasarkan besar ambing (Thomas, 2008).   Calving interval kerbau perah tergantung pada manajemen pemeliharaan, iklim dan nutrisi. Di Italia produksi kerbau lebih maju dimana 95% kerbau dibiakkan secara alami. Di Italia, Mesir dan India, satu kerbau jantan dipelihara untuk 30 ekor kerbau betina akan tetapi manajemen pemeliharaan dan kesehatan sangat penting untuk diperhatikan untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin yang dapat menyebabkan infertilitas dan sterilitas pada kerbau jantan dan kerbau betina (Thomas, 2008).

            Di Italia pejantan pemacek direkomendasikan untuk diganti 5 tahun sekali. Untuk berkinerja terbaik, pejantan harus diberi makanan yang berkualitas tinggi dan dilindungi dari panas sehingga terhindar dari heat stress.

Di China Kerbau perah yang dipelihara untuk betina dewasa memiliki berat 250-400 kg, hasil susu rata-rata dalam laktasi adalah 500-600 kg, sedangkan kerbau yang unggul bisa mencapai 800-1000 kg (Yang dkk, 2007)

Bangsa kerbau perah yang banyak dipelihara di Asia adalah  Murrain, Surti, Nili-Ravi, Mehsana, Nagpuri, Jafarabadi dan lain-lain. Pemilihan bangsa kerbau sebagai penghasil susu perlu dipertimbangkan kesesuaiannya dengan lingkungan. Di Indonesia kerbau perah yang banyak dikembangkan adalah kerbau Murrah, terutama di Sumatera Utara. Kerbau Murrah merupakan kerbau perah utama di dunia. Produksi susu rata-rata 3.500 - 4.000 Ibs (1 lbs = 0,453 kg) setiap laktasi, bahkan kerbau Murrah yang terseleksi dapat menghasilkan susu 5.000 - 7.000 Ibs per laktasi. Sedangkan produksi susu kerbau Nili Ravi 4.000 Ibs dalam masa laktasi 250 hari, kerbau Kundi mencapai 2.000 kg dalam masa laktasi 300 hari, dan kerbau sebagai penghasil susu terbaik adalah kerbau Surti dengan produksi susu rata-rata 1.655,5 kg per laktasi dengan kadar lemak 7,5 % (Thomas, 2008).
  
Pakan Kerbau Perah

            Kerbau dikenal sebagai pemakan rumput yang baik dan dapat memanfaatkan serat kasar lebih efisien dibandingkan dengan sapi. Kemampuan unik dari kerbau adalah dapat bertahan hidup di bawah kondisi gizi pakan yang rendah sehingga memberikan keunggulan kompetitif terhadap produsen susu. Selain itu, kerbau memiliki umur produktif yang panjang. Kerbau betina sehat yang normal bisa memiliki  9 – 10 laktasi (Thomas, 2004).

            Kerbau mempunyai gerakan rumen yang lebih lambat, laju aliran yang lebih kecil dan populasi bakteri yang lebih banyak sehingga pencernaan dari kerbau lebih efisien. Rumen kerbau memiliki produksi VFA yang lebih banyak dibandingkan dengan sapi. Hal ini merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada kadar lemak yang lebih tinggi pada susu kerbau (Thomas, 2008). Pakan yang diberikan pada kerbau perah berupa hijauan dan konsentrat yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.

Dengan pemberian pakan hijauan yang ditambahkan legum, pertumbuhan kerbau dara bisa mencapai >370 gram/hari. Jika ditambahkan sedikit pakan konsentrat yang kaya energi dapat memperbaiki laju pertumbuhannya yaitu >465 gram/hari (Thomas, 2008). 
 
PEMBAHASAN 
Integrasi Bibit dalam Meningkatkan Produksi Susu Kerbau Perah

            Teknologi pemuliaan seperti persilangan menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan mutu genetik ternak.  Chiangmai dan Chavananikul (1994) telah melakukan persilangan antara kerbau sungai (murrah) dengan kerbau rawa dimana hasil dari persilangan kerbau tersebut mampu menghasilkan keturunan. Kedua jenis kerbau (sungai dan rawa) memiliki produksi susu yang berbeda. Produksi susu kerbau rawa adalah 1-2 liter/hari (Thomas, 2008) sedangkan kerbau Murrah 7-9 liter/hari. Dari hasil persilangan antara kerbau Murrah dengan kerbau Rawa diharapkan dapat menjadi ternak dwiguna yaitu penghasil susu dan pedaging. Dari persilangan ini didapatkan peningkatan produksi susu kerbau persilangan dibandingkan dengan produksi susu kerbau rawa  murni.
          Kerbau rawa menghasilkan produksi susu 1-2 kg/hari sedangkan persilangan kerbau rawa-kerbau murrah untuk F1 produksi susunya mencapai 2-3 kg/hari (2,87 kg/hari) dan untuk F2 3-4 kg/hari (3,40 kg/hari). Di Indonesia terutama di Sumatera Barat pemeliharaan kerbau sungai masih sangat jarang ditemukan, umumnya kerbau yang dipelihara adalah kerbau rawa dimana tujuan pemeliharaannya dijadikan sebagai ternak multiguna yaitu penghasil daging, diperah dan sebagai tenaga kerja. Untuk dapat meningkatkan produksi susu dari kerbau rawa maka teknologi persilangan antara kerbau rawa dengan kerbau sungai dapat menjadi solusi. Inseminasi Buatan menjadi salah satu alternative dalam perkawinan kerbau Rawa dengan kerbau Murrah. Menurut Jansen dan Johan (2019) upaya peningkatan produksi susu kerbau dapat dilakukan dengan teknologi persilangan antara kerbau Murrah yang berasal dari daerah Haryana dan Punjap, karena kerbau asal daerah ini diyakini memiliki produksi susu yang baik.

            Penelitian mengenai persilangan kerbau rawa dengan kerbau sungai secara kawin alam masih sedikit ditemukan, akan tetapi penerapan teknologi seperti IB (Inseminasi Buatan) sudah dilakukan dan dapat diandalkan untuk memperoleh bibit kerbau yang baik (Wirdahayati, 2007). 
 
    Integrasi Pakan dalam Meningkatkan Produksi Susu Kerbau Perah
 
            Ketersediaan pakan yang berkualitas berperan penting dalam menunjang keberhasilan peternakan termasuk peternakan kerbau perah. Menurut ( Nagrale dkk., 2015 ) Ketersediaan dan keterjangkauan pakan berkualitas merupakan faktor penghambat produksi susu yang lebih tinggi. Hasil perahan susu kerbau dapat ditingkatkan melalui perbaikan penyediaan pakan yang memadai, tidak hanya mengandalkan rumput alam yang ketersediaannya berfluktuasi (Wirdahayati dkk., 2006).

Menurut Arif dkk. (2018) telah banyak metode-metode yang diterapkan dalam meningkatkan kualitas dari pakan ternak ruminansia salah satunya adalah dengan penambahan enzim fibrolitik eksogen (EFE) yang dapatAddition of exogenous fibrolytic enzymes (EFE) is one of theyang yang dapat yang meningkatkan fermentasi rumen dan produksi susu ternak perah di Indonesia (Arif dkk, 2018).

Hasil penelitian Arif dkk., (2018) menunjukkan bahwa produksi susu kerbau mengalami peningkatan saat ransum  ditambahkan enzim EFE (Exogenus Fibrolytic Enzym (accellerase)) AS-70  (dengan rasio ransum dan enzyme adalah 70 : 30) dibandingkan tanpa penambahan enzim EFE, tetapi berbeda tidak nyata dengan penambahan enzim EFE AS-60 (rasio ransum dengan enzyme aalah 60 : 40). Peningkatan produksi susu dengan penambahan enzim EFE dapat dilihat pada Tabel 3.

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa produksi susu kerbau mengalami peningkatan saat ransum ditambahkan dengan enzim EFE AS-70 dimana produksi susu mencapai 9,80 kg/hari. Sedangkan ransum yang tidak diberi tambahan enzim EFE produksi susu adalah 7,13 kg/hari. Hasil tersebut juga didukung oleh Beauchemin dkk, (2003) yang menyatakan bahwa penambahan suplemen EFE dalam ransum ruminansia dapat meningkatkan produksi susu mencapai 3-4%. Peningkatan tersebut disebabkan karena adanya peningkatan penyerapan nutrisi dalam saluran pencernaan, sehingga nutrisi untuk memproduksi susu juga lebih banyak akhirnya produksi susu meningkatan ransum

            Selain penambahan suplementasi enzim EFE sebagai strategi dalam meningkatkan produksi susu, Nurdin dkk., (2011) menyatakan bahwa penambahan suplementasi herbal seperti (Black Cumin, Curcuma zeodharia, Curcuma mangga, and Curcuma aeruginosa) juga dapat meningkatkan produksi susu dan kualitas susu ternak yang mengalami mastitis. Pemberian suplementasi black cumin dan Curcuma aeruginosa dapat meningkatkan produksi susu tetapi menurunkan kandungan protein dan laktosa susu. Penurunan kandungan protein disebabkan karena adanya kandungan saponin pada tanaman herbal yang dapat membantu menekan pertumbuhan mikroba didalam rumen with depressing number of microbes withrumen terutama mikroorganismepathogenic potential.mikroba pathogen (Nurdin dkk., 2011). Nurdin (2010) melaporkan bahwa pemberian feeding ofBlack Cumin , Curcuma zeodharia,Black Cumin , Curcuma zeodharia, Curcuma mangga, and Curcuma aeruginosa willCurcuma mangga, dan Curcuma aeruginosa akan menjadikan lingkungan help in establishing better conditions of rumenmenjadikanmerumen lebih baik karena tanaman ini mengandung antioxidant compound and anti-inflammationsenyawa antioksidan dan anti-inflamasi potential can increase alveolar cell permeabilitypotensial yang dapat meningkatkan permeabilitas sel alveolar and can assist in rumen ecological balance.dan dapat membantu keseimbangan ekologi rumen. ecology.. As a result, number of rumen bacteriaAkibatnya, jumlah bakteri rumen and total VFA will increase and followed bydan total VFA akan meningkat dan diikuti oleh reduction of NH3 concentration.pengurangan konsentrasi NH3. Populasi mikroorganisme bertanggung jawab atas increased VFA production.peningkatan produksi VFA sehingga dapat meningkatkan When this populationproduction of milk or meat (Kalscheuret al. ,produksi susu. VFA mengandung asam asetat, propionate dan butirat. Asam asetat berfungsi sebagai pmilk fat precursor and propionic acid is functionrekursor lemak susu dan asam propionat berfungsi for glucose syntesis (Kalscheuret al. , 2006;untuk sintesis glukosa susu (Kalscheur dkk,. 2006;2006).

Selain itu, hasil penelitian Elly (2013) memaparkan bahwa pemberian pakan suplemen daun singkong menghasilkan produksi susu kerbau yang semakin tinggi. Penambahan tepung daun singkong 30% memberikan produksi susu paling baik, yaitu sebesar 1,35 kg/hari. Meningkatnya produksi susu kerbau seiring dengan peningkatan penggunaan daun singkong dalam pemberian pakan supplemen. Hal ini disebabkan karena daun singkong mengandung nitrogen yang merupakan precursor dalam pembentukan NH3 di dalam rumen. Adapun NH3 dimanfaatkan sebagai sumber nitrogen bagi pertumbuhan mikroorganisme, sehingga aktivitas mikroorganisme di dalam rumen dalam memfermentasi polisakarida menjadi VFA meningkat pula. VFA digunakan sebagai sumber energi oleh ternak untuk berproduksi.  Produksi VFA yang tinggi menyebabkan ternak kerbau memperoleh energy yang tinggi sehingga produktifitasnya juga lebih dan ditandai dengan meningkatnya produksi susu (Elly, 2013).

            Menurut hasil penelitian Tanwar dkk (2013) memaparkan bahwa pemberian UMMB (Urea Molases Mineral Block) pada kerbau juga dapat meningkatkan produksi susu kerbau sebesar 13,21 % perhari. Pemberian UMMB dapat meingkatkan produksi susu kerbau diberbagai desa di India. Di desa Khannipura produksi susu meningat setelah pemberian UMMB sebesar 13,94%, Berna (18,55%), Shripura (10,36%) dan Sandarshar (13,14%). Peningkatan produksi susu kerbau tersebut diebabkan karena UMMB mengandung protein kasar, energi dan mineral lebih baik (Tanwar dkk., 2013) sehingga nutrisi ternak kerbau dalam menghasilkan susu juga tercukupi.

  KESIMPULAN
Strategi peningkatan produksi susu kerbau dapat dilakukan dengan perbaikan  manajemen pakan seperti penambahan suplemen didalam pakan seperti penambahann enzim fibrolitik eksogenus (EFE), penambahan suplementasi herbal seperti (Black Cumin, Curcuma zeodharia, Curcuma mangga, and Curcuma aeruginosa), penambahan tepung daun singkong dan pemberian suplemen berupa UMMB. Sedangkan dalam meningkatkan produksi susu kerbau dengan integrasi bibit dapat dilakukan dengan penerapan teknologi persilangan antara kerbau Rawa dengan kerbau Murrah, dimana hasil persilangan dapat meningkatkan produksi susu dan produksi daging.

DAFTAR PUSTAKA

Arefaine, H dan Mokhtar, K. 2015. A Review on Strategies for Sustainable Buffalo Milk Production in Egypt. Journal of Biology, Agriculture and Healthcare. 5 (9) : 63-68.

Arif, M., A.A. Al-Sagheerb,. A.Z.M. Salemc,. M.E. Abd El-Hackd, A.A. Swelume,. M. Saeedg,. M. Jamala dan M. Akhtarh. 2018. Influence of exogenous fibrolytic enzymes on milk production efficiency and nutrient utilization in early lactating buffaloes fed diets with two proportions of oat silage to concentrate ratios. Elsevier. 219 : 29-34

Badan Pusat Statistik. 2018. Populasi Ternak Provinsi Sumatera Barat. https://sumbar.bps.go.id.

Beauchemin, K., Colombatto, D., Morgavi, D., Yang, W., 2003. Use of Exogenous Fibrolytic Enzymes to Improve Feed Utilization by Ruminants 1 2. J. Anim. Sci. 81, 3747.

Chiangmai, N.A and Chavananikul, V. 1994.  Performance and Cytogenetic Aspects of Swamp x River Crossbred Buffaloes. Departement of Livestock. Bangkok. Thailand.

Ibrahim, M. A. R. 2012. Water buffalo for our next generation in Egypt and in the world. Scientific Papers. Series D. Animal Science.

Jansen, E and Johan, S. 2019. Technology adoption and value chains in developing countries: Evidence from dairy in India. Elsevier. 83 : 327-336

Kalscheur K.F., R.L. Baldwinvi, B.P. Glenn and R.A. Kohn. 2006. Milk production of dairy cows differing concentration of rumendegraded protein. J. Dairy Sci. 89: 249 – 259.

Mukhlis, M. Noer, Nofialdi, and Mahdi. 2018. The Integrated Farming System of Crop and Livestock: A Review of Rice and Cattle Integration Farming. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research. 42 (3) : 68-82.

Nagrale, B.G., Datta, K.K., Chauhan, A.K., 2015. An analysis of constraints faced by dairy farmers in Vidarbha Region of Maharashtra. Ind. J. Dairy Sci. 68 (4).

Nurdin, E., T. Amelia dan M. Makin. 2011. The Effects of Herbs on Milk Yield and Milk Quality of Mastitis Dairy Cow. J.Indonesian Trop.Anim.Agric. 36 (2) : 104-108

Nurdin, E. 2010. Pemanfaatan kunyit manga (Curcuma mangga) terhadap ekologi rumen sapi perah Holstein. J. Penelitian Unja. 12(3):86-89.

Syamsu, J. A. H. M. Ali, and M. Yusuf. 2013. Application of Technology for Processing Rice Straw as Feed for Beef Cattle. International Conference on Agriculture and Biotechnology. Singapore

Tanwar, P.S., Y. Kumar., and Rathore. 2013. Effect of urea molasses mineral block (UMMB) supplementation on milk production in buffaloes under rural management practices. Jurnal of Rural and Agricultural Research. 13 (2) : 19-21.

Thomas, C. S. 2004. Milking management of dairy buffaloes. Department of Animal Nutrition and Management Uppsala. Doctoral thesis Swedish University of Agricultural Sciences.

­­­­Thomas, C. S. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Delaval International. Tumba Sweden.

Wirdahayati. 2007. Upaya Peningkatan Produksi Susu Kerbau untuk Kelestarian Produk Dadih di Sumatera Barat. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor

Yang, B., X.L.Q. Zeng., J. Qin dan C. Yang. 2007. Dairy buffalo breeding  in countryside of China. Italian Journal of Animal Science. 6 (2) : 25-29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar