PENDAHULUAN
Kerbau perah adalah ternak ruminansia besar yang berperan penting dalam upaya
pemenuhan kebutuhan protein hewani manusia seperti susu. Di Mesir, kerbau merupakan
sumber utama industri susu yang berkontribusi lebih dari 70% per tahun. Susu
kerbau sangat disukai oleh masyarakat Mesir karena kandungan lemak tinggi yang
meningkatkan cita rasa (Arefaine dan Mokhtar, 2015) sehingga permintaan susu
kerbau semakin meningkat. Akan tetapi, produksi susu kerbau sangat rendah yaitu 4-10 kg/hari
(Ibrahim, 2012), hal ini juga berkolerasi dengan penurunan populasi kerbau
setiap tahunnya.
Kerbau berpotensi baik untuk
dikembangkan diseluruh Negara di Asia termasuk Indonesia, sebab kerbau lebih mudah beradaptasi
dengan pakan yang tersedia, rentan terhadap penyakit dan mampu bertahan hidup
dengan iklim setempat. Akan tetapi di Indonesia populasi kerbau pada tahun 2017 mengalami
penurunan (Badan Pusat Statistik, 2018). Penurunan populasi
kerbau ini terjadi karena beberapa faktor, seperti ketersediaan dan kualitas
pakan, bibit dan manajemen pemeliharaan belum terlaksana dengan baik terutama
manajemen reproduksi. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan beberapa
strategi dalam peningkatan populasi kerbau perah yang akhirnya berujung kepada
peningkatan produksi susu kerbau. Strategi tersebut dapat berupa penerapan
teknologi yang mengaitkan sistem integrasi antara bibit, pakan dan teknologi
reproduksi.
Integrasi merupakan
sistem yang mengkombinasikan antara komponen satu dengan lainnya yang ditunjang
dengan penerapan teknologi. Penerapan sistem integrasi dapat menjadi solusi
dalam mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam pengembangan pertanian
dan peternakan (Mukhlis dkk, 2018) termasuk pengembangan ternak kerbau perah.
Dengan menerapkan pola integrasi diharapkan dapat meningkatkan produksi susu
kerbau di Asia terutama di Indonesia. Makalah ini akan membahas integrasi
berbagai teknologi pakan, bibit dalam meningkatkan produksi susu kerbau perah.
TINJAUAN PUSTAKA
Kerbau Perah
Kerbau ( Bubalus bubalis ) berasal dari keluarga Bovidae,
sub-keluarga Bovinae, genus bubalis dan spesies arni atau
kerbau liar India. Kerbau diklasifikasikan menjadi dua kelas yang berbeda yaitu
kerbau rawa dan kerbau sungai. Kerbau sungai memiliki 50 kromosom dan kerbau
rawa memiliki 48 kromosom (Thomas, 2004). Kerbau rawa merupakan kerbau yang
dipelihara degan tujuan untuk menghasilkan daging, menurut Thomas (2004) selain
tujuan utama menghasilkan daging kerbau rawa juga menghasilkan susu tetapi
produksinya lebih rendah dibandingkan dengan kerbau sungai yaitu 1-2 liter/hari.
Sedangkan kerbau sungai produksi susunya mencapai 6-7 liter/hari dengan
kandungan rata-rata lemak, protein, dan laktosa masing-masing 7,5 % 4,2% dan
5%, dengan energi lebih tinggi dari pada susu sapi. Beberapa jenis kerbau
sungai yang paling banyak di pelihara di India dan Pakistan adalah kerbau
Murrah, Nili-Ravi, Surti, Mehsana, Nagpuri, dan Jafarabadi.
Kerbau perah merupakan sumber pasokan susu terbesar kedua di dunia.
Pada tahun 2004, menurut statistik dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB
(FAO) dunia produksi susu kerbau adalah 75,8 juta ton (Thomas, 2008). Kerbau perah merupakan
salah satu ternak ruminansia besar yang berperan penting dalam pemenuhan
kebutuhan protein hewani manusia seperti susu selain sapi. Di Italia, industri
kerbau perah berkembang pesat karena popularitas keju mozzarella yang berbahan
dasar susu kerbau sehingga
industry kerbau perah sangat menguntungkan. Di negara-negara Amerika Selatan
seperti Brasil dan Argentina, kerbau dipelihara untuk susu dan daging (Thomas, 2004).
Susu kerbau mengandung
total padatan, lemak, protein dan vitamin yang tinggi dibandingkan dengan susu
sapi. Susu kerbau juga mengandung lebih sedikit kolesterol dan lebih banyak
tokoferol (antioksidan alami).
Di India kerbau perah yang banyak dipelihara adalah kerbau
Murrah Kerbau
murrah berasal dari New Delhi India dan berkembang biak serta
telah menyebar dari daerah lain India. Kerbau Surti dan Nili-Ravi diyakini
telah berkembang dari Murrah melalui isolasi geografis (Thomas, 2008).
Untuk pemilihan
bibit kerbau perah, di Negara seperti Australia dan Selandia baru kerbau perah
bibit dipilih berdasarkan besar ambing (Thomas, 2008). Calving interval kerbau perah tergantung
pada manajemen pemeliharaan, iklim dan nutrisi. Di Italia produksi
kerbau lebih maju dimana 95% kerbau dibiakkan secara alami. Di Italia, Mesir
dan India, satu kerbau jantan dipelihara untuk 30 ekor kerbau betina akan tetapi
manajemen pemeliharaan dan kesehatan sangat penting untuk diperhatikan untuk
menghindari penyebaran penyakit kelamin yang dapat menyebabkan infertilitas dan
sterilitas pada kerbau jantan dan kerbau betina (Thomas, 2008).
Di
Italia pejantan pemacek direkomendasikan untuk diganti 5 tahun sekali. Untuk
berkinerja terbaik, pejantan harus diberi makanan yang berkualitas tinggi dan
dilindungi dari panas sehingga terhindar dari heat stress.
Di China Kerbau perah yang
dipelihara untuk betina dewasa memiliki berat 250-400 kg, hasil susu rata-rata
dalam laktasi adalah 500-600 kg, sedangkan kerbau yang unggul bisa mencapai
800-1000 kg (Yang dkk, 2007)
Bangsa kerbau perah yang banyak dipelihara di
Asia adalah Murrain, Surti, Nili-Ravi,
Mehsana, Nagpuri, Jafarabadi dan lain-lain. Pemilihan bangsa kerbau sebagai
penghasil susu perlu dipertimbangkan kesesuaiannya dengan lingkungan. Di
Indonesia kerbau perah yang banyak dikembangkan adalah kerbau Murrah, terutama
di Sumatera Utara. Kerbau Murrah merupakan kerbau perah utama di dunia.
Produksi susu rata-rata 3.500 - 4.000 Ibs (1 lbs = 0,453 kg) setiap laktasi,
bahkan kerbau Murrah yang terseleksi dapat menghasilkan susu 5.000 - 7.000 Ibs
per laktasi. Sedangkan produksi susu kerbau Nili Ravi 4.000 Ibs dalam masa
laktasi 250 hari, kerbau Kundi mencapai 2.000 kg dalam masa laktasi 300 hari,
dan kerbau sebagai penghasil susu terbaik adalah kerbau Surti dengan produksi
susu rata-rata 1.655,5 kg per laktasi dengan kadar lemak 7,5 % (Thomas, 2008).
Pakan Kerbau Perah
Kerbau dikenal sebagai
pemakan rumput yang baik dan dapat memanfaatkan serat kasar lebih efisien
dibandingkan dengan sapi. Kemampuan unik dari kerbau adalah dapat bertahan
hidup di bawah kondisi gizi pakan yang rendah sehingga memberikan keunggulan
kompetitif terhadap produsen susu. Selain itu, kerbau memiliki umur produktif
yang panjang. Kerbau betina sehat yang normal bisa memiliki 9 – 10 laktasi (Thomas, 2004).
Kerbau mempunyai
gerakan rumen yang lebih lambat, laju aliran yang lebih kecil dan populasi
bakteri yang lebih banyak sehingga pencernaan dari kerbau lebih efisien. Rumen
kerbau memiliki produksi VFA yang lebih banyak dibandingkan dengan sapi. Hal
ini
merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada kadar lemak yang lebih
tinggi pada susu kerbau (Thomas, 2008). Pakan yang diberikan pada kerbau perah
berupa hijauan dan konsentrat yang mengandung protein, karbohidrat, lemak,
vitamin dan mineral.
Dengan pemberian pakan hijauan yang ditambahkan legum, pertumbuhan
kerbau dara bisa mencapai >370 gram/hari. Jika ditambahkan sedikit pakan
konsentrat yang kaya energi dapat memperbaiki laju pertumbuhannya yaitu >465
gram/hari (Thomas, 2008).
PEMBAHASAN
Integrasi Bibit dalam Meningkatkan Produksi Susu Kerbau Perah
Teknologi pemuliaan seperti
persilangan menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan mutu genetik
ternak. Chiangmai dan Chavananikul
(1994) telah melakukan persilangan antara kerbau sungai (murrah) dengan kerbau
rawa dimana hasil dari persilangan kerbau tersebut mampu menghasilkan
keturunan. Kedua jenis
kerbau (sungai dan rawa) memiliki produksi susu yang berbeda. Produksi susu
kerbau rawa adalah 1-2 liter/hari (Thomas, 2008) sedangkan kerbau Murrah 7-9
liter/hari. Dari hasil persilangan antara kerbau Murrah dengan kerbau Rawa diharapkan
dapat menjadi ternak dwiguna yaitu penghasil susu dan pedaging. Dari
persilangan ini didapatkan peningkatan produksi susu kerbau persilangan
dibandingkan dengan produksi susu kerbau rawa
murni.
Kerbau rawa menghasilkan
produksi susu 1-2 kg/hari sedangkan persilangan kerbau rawa-kerbau murrah untuk
F1 produksi susunya mencapai 2-3 kg/hari (2,87 kg/hari) dan untuk F2 3-4
kg/hari (3,40 kg/hari). Di Indonesia terutama di Sumatera Barat pemeliharaan
kerbau sungai masih sangat jarang ditemukan, umumnya kerbau yang dipelihara
adalah kerbau rawa dimana tujuan pemeliharaannya dijadikan sebagai ternak
multiguna yaitu penghasil daging, diperah dan sebagai tenaga kerja. Untuk dapat
meningkatkan produksi susu dari kerbau rawa maka teknologi persilangan antara
kerbau rawa dengan kerbau sungai dapat menjadi solusi. Inseminasi Buatan
menjadi salah satu alternative dalam perkawinan kerbau Rawa dengan kerbau
Murrah. Menurut Jansen dan Johan (2019) upaya peningkatan produksi susu kerbau
dapat dilakukan dengan teknologi persilangan antara kerbau Murrah yang berasal
dari daerah Haryana dan Punjap, karena kerbau asal daerah ini diyakini memiliki
produksi susu yang baik.
Penelitian mengenai persilangan kerbau rawa dengan kerbau
sungai secara kawin alam masih sedikit ditemukan, akan tetapi penerapan
teknologi seperti IB (Inseminasi Buatan) sudah dilakukan dan dapat diandalkan
untuk memperoleh bibit kerbau yang baik (Wirdahayati, 2007).
Integrasi Pakan dalam Meningkatkan Produksi Susu Kerbau Perah
Ketersediaan pakan yang berkualitas berperan penting dalam
menunjang keberhasilan peternakan termasuk peternakan kerbau perah. Menurut ( Nagrale dkk.,
2015 ) Ketersediaan dan keterjangkauan pakan berkualitas merupakan faktor
penghambat produksi susu yang lebih tinggi. Hasil perahan susu
kerbau dapat ditingkatkan melalui perbaikan penyediaan pakan yang memadai,
tidak hanya mengandalkan rumput alam yang ketersediaannya berfluktuasi (Wirdahayati
dkk., 2006).
Menurut Arif dkk. (2018) telah banyak
metode-metode yang diterapkan dalam meningkatkan kualitas dari pakan ternak
ruminansia salah satunya adalah dengan penambahan enzim
fibrolitik eksogen (EFE) yang dapat meningkatkan fermentasi rumen dan
produksi susu ternak perah di Indonesia (Arif dkk, 2018).
Hasil penelitian Arif dkk., (2018)
menunjukkan bahwa produksi susu kerbau mengalami peningkatan saat ransum ditambahkan enzim EFE (Exogenus Fibrolytic
Enzym (accellerase)) AS-70 (dengan rasio
ransum dan enzyme adalah 70 : 30) dibandingkan tanpa penambahan enzim EFE,
tetapi berbeda tidak nyata dengan penambahan enzim EFE AS-60 (rasio ransum
dengan enzyme aalah 60 : 40). Peningkatan produksi susu dengan penambahan enzim
EFE dapat dilihat pada Tabel 3.
Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa produksi
susu kerbau mengalami peningkatan saat ransum ditambahkan dengan enzim EFE
AS-70 dimana produksi susu mencapai 9,80 kg/hari. Sedangkan ransum yang tidak
diberi tambahan enzim EFE produksi susu adalah 7,13 kg/hari. Hasil tersebut
juga didukung oleh Beauchemin dkk, (2003) yang menyatakan bahwa penambahan
suplemen EFE dalam ransum ruminansia dapat meningkatkan produksi susu mencapai
3-4%. Peningkatan tersebut disebabkan karena adanya peningkatan penyerapan
nutrisi dalam saluran pencernaan, sehingga nutrisi untuk memproduksi susu juga
lebih banyak akhirnya produksi susu meningkatan ransum
Selain penambahan suplementasi enzim
EFE sebagai strategi dalam meningkatkan produksi susu, Nurdin dkk., (2011)
menyatakan bahwa penambahan suplementasi herbal seperti (Black Cumin, Curcuma zeodharia, Curcuma mangga, and
Curcuma aeruginosa) juga dapat meningkatkan produksi susu dan kualitas susu ternak yang
mengalami mastitis. Pemberian suplementasi black
cumin dan Curcuma aeruginosa dapat meningkatkan produksi susu tetapi
menurunkan kandungan protein dan laktosa susu. Penurunan kandungan protein
disebabkan karena adanya kandungan saponin pada tanaman herbal yang dapat membantu menekan
pertumbuhan mikroba didalam rumen terutama mikroorganisme pathogen
(Nurdin dkk., 2011). Nurdin (2010) melaporkan bahwa pemberian Black Cumin , Curcuma zeodharia, Curcuma mangga, dan Curcuma
aeruginosa akan menjadikan lingkungan rumen
lebih baik karena tanaman ini mengandung senyawa antioksidan dan
anti-inflamasi potensial yang dapat meningkatkan
permeabilitas sel alveolar dan dapat membantu keseimbangan
ekologi rumen. Akibatnya, jumlah bakteri rumen dan
total VFA akan meningkat dan diikuti oleh pengurangan konsentrasi NH3. Populasi
mikroorganisme bertanggung jawab atas peningkatan produksi VFA sehingga dapat meningkatkan produksi susu. VFA mengandung asam asetat,
propionate dan butirat. Asam asetat berfungsi sebagai prekursor
lemak susu dan asam propionat berfungsi untuk sintesis
glukosa susu (Kalscheur dkk,. 2006).
Selain itu, hasil penelitian Elly (2013) memaparkan
bahwa pemberian pakan suplemen daun singkong menghasilkan produksi susu kerbau
yang semakin tinggi. Penambahan tepung daun singkong 30% memberikan produksi susu paling baik, yaitu
sebesar 1,35 kg/hari. Meningkatnya produksi susu kerbau seiring dengan
peningkatan penggunaan daun singkong dalam pemberian pakan supplemen. Hal ini
disebabkan karena daun singkong mengandung nitrogen yang merupakan precursor
dalam pembentukan NH3 di dalam rumen. Adapun NH3 dimanfaatkan sebagai sumber
nitrogen bagi pertumbuhan mikroorganisme, sehingga aktivitas mikroorganisme di
dalam rumen dalam memfermentasi polisakarida menjadi VFA meningkat pula. VFA
digunakan sebagai sumber energi oleh ternak untuk berproduksi. Produksi VFA yang tinggi menyebabkan ternak
kerbau memperoleh energy yang tinggi sehingga produktifitasnya juga lebih dan ditandai
dengan meningkatnya produksi susu (Elly, 2013).
Menurut hasil penelitian Tanwar dkk
(2013) memaparkan bahwa pemberian UMMB (Urea Molases Mineral Block) pada kerbau
juga dapat meningkatkan produksi susu kerbau sebesar 13,21 % perhari. Pemberian UMMB dapat meingkatkan produksi susu kerbau
diberbagai desa di India. Di desa Khannipura produksi susu meningat setelah
pemberian UMMB sebesar 13,94%, Berna (18,55%), Shripura (10,36%) dan Sandarshar
(13,14%). Peningkatan produksi susu kerbau tersebut diebabkan karena UMMB
mengandung protein kasar, energi dan mineral lebih baik (Tanwar dkk., 2013)
sehingga nutrisi ternak kerbau dalam menghasilkan susu juga tercukupi.
KESIMPULAN
Strategi peningkatan
produksi susu kerbau dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen pakan seperti penambahan suplemen
didalam pakan seperti penambahann enzim fibrolitik eksogenus (EFE), penambahan
suplementasi herbal seperti (Black
Cumin, Curcuma zeodharia, Curcuma mangga, and Curcuma aeruginosa), penambahan tepung
daun singkong dan pemberian suplemen berupa UMMB. Sedangkan dalam meningkatkan
produksi susu kerbau dengan integrasi bibit dapat dilakukan dengan penerapan
teknologi persilangan antara kerbau Rawa dengan kerbau Murrah, dimana hasil
persilangan dapat meningkatkan produksi susu dan produksi daging.
DAFTAR PUSTAKA
Arefaine, H dan Mokhtar, K. 2015. A Review on Strategies for
Sustainable Buffalo Milk Production in Egypt. Journal of
Biology, Agriculture and Healthcare. 5 (9) : 63-68.
Arif, M., A.A.
Al-Sagheerb,. A.Z.M. Salemc,. M.E. Abd El-Hackd, A.A. Swelume,. M. Saeedg,. M.
Jamala dan M. Akhtarh. 2018. Influence of exogenous fibrolytic enzymes on milk
production efficiency and nutrient utilization in early lactating buffaloes fed
diets with two proportions of oat silage to concentrate ratios. Elsevier. 219 :
29-34
Beauchemin, K.,
Colombatto, D., Morgavi, D., Yang, W., 2003. Use of Exogenous Fibrolytic
Enzymes to Improve Feed Utilization by Ruminants 1 2. J. Anim. Sci. 81, 37–47.
Chiangmai, N.A and Chavananikul, V. 1994. Performance and Cytogenetic Aspects
of Swamp x River Crossbred Buffaloes. Departement of Livestock. Bangkok.
Thailand.
Ibrahim,
M. A. R. 2012. Water buffalo for our next generation in Egypt and in the world.
Scientific Papers. Series D. Animal
Science.
Jansen,
E and Johan, S. 2019. Technology
adoption and value chains in developing countries: Evidence from dairy in India.
Elsevier. 83 : 327-336
Kalscheur
K.F., R.L. Baldwinvi, B.P. Glenn and R.A. Kohn. 2006. Milk production of dairy cows
differing concentration of rumendegraded protein. J. Dairy Sci. 89: 249 – 259.
Mukhlis, M. Noer,
Nofialdi, and Mahdi. 2018. The Integrated Farming System of Crop and Livestock:
A Review of Rice and Cattle Integration Farming. International Journal of
Sciences: Basic and Applied Research. 42 (3) : 68-82.
Nagrale, B.G., Datta,
K.K., Chauhan, A.K., 2015. An analysis of constraints faced by dairy farmers in
Vidarbha Region of Maharashtra. Ind. J. Dairy Sci. 68 (4).
Nurdin, E., T. Amelia
dan M. Makin. 2011. The Effects of
Herbs on Milk Yield and Milk Quality of Mastitis Dairy Cow. J.Indonesian Trop.Anim.Agric.
36 (2) : 104-108
Nurdin,
E. 2010. Pemanfaatan kunyit manga (Curcuma mangga) terhadap ekologi
rumen sapi perah Holstein. J. Penelitian Unja. 12(3):86-89.
Syamsu, J. A. H. M. Ali,
and M. Yusuf. 2013. Application of Technology for Processing Rice Straw as Feed
for Beef Cattle. International Conference on Agriculture and Biotechnology.
Singapore
Tanwar, P.S., Y. Kumar., and Rathore. 2013. Effect of urea molasses
mineral block (UMMB) supplementation on milk production in buffaloes under
rural management practices. Jurnal of Rural and Agricultural Research. 13 (2) :
19-21.
Thomas, C. S. 2004. Milking management of dairy buffaloes. Department of Animal Nutrition and Management
Uppsala. Doctoral thesis Swedish
University of Agricultural Sciences.
Thomas, C. S. 2008.
Efficient Dairy Buffalo Production. Delaval International. Tumba Sweden.
Wirdahayati. 2007. Upaya Peningkatan Produksi Susu Kerbau untuk Kelestarian Produk Dadih di
Sumatera Barat. Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10,
Bogor
Yang, B., X.L.Q. Zeng., J. Qin dan C. Yang. 2007. Dairy buffalo
breeding in countryside of China.
Italian Journal of Animal Science. 6 (2) : 25-29.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar