PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peternakan
merupakan bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk
menyediakan pangan hewani berupa daging,
susu dan telur yang bergizi tinggi, meningkatkan pendapatan peternak, menambah
devisa serta memperluas kesempatan kerja dan pada masa yang akan datang
diharapkan dapat menunjang pembangunan perekonomian bangsa (Saragih, 2000). Menurut
Saragi (2000), pemerintah berusaha untuk meningkatkan pendapatan peternak dan
memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat dengan mendayagunakan dan
mengembangkan potensi ternak. Potensi ternak yang bernilai jual tinggi salah satunya adalah
ayam pedaging (broiler).
Ayam pedaging (broiler) merupakan strain ayam hasil
budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas
pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging (Dahlan dkk., 2012). Daging ayam
merupakan salah satu sumber bahan pangan hewani yang mengandung gizi cukup
tinggi berupa protein dan energi. Permintaan terhadap daging ayam cenderung
meningkat. Hal ini sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (2015) yang
menyatakan bahwa terjadinya peningkatan konsumsi daging ayam ras pada tahun
2009 – 2013 yaitu dari 0,068 kg/ kapita menjadi 0,083 kg/ kapita. Selain itu
faktor yang turut mendorong meningkatnya permintaan daging ayam adalah pergeseran
pola konsumsi masyarakat dari bahan pangan sumber protein nabati ke bahan
pangan sumber protein hewani. Fenomena ini diperkirakan akan terus-menerus
meningkat dan berlanjut di masa depan (Dilago, 2011).
Perkembangan
industri ayam broiler di Indonesia belum berkembang dengan baik. Seiring dengan
pertambahan populasi penduduk maka akan meningkatkan permintaan masyarakat
terhadap kebutuhan protein hewani (daging ayam). Akan tetapi, tingkat
ketersediaannya masih belum mencukupi. Pemerintah telah berupaya mengatasi
permasalaham tersebut dengan melakukan impor daging dan telur ayam. Tetapi, hal
ini akan menyebabkan pengembangan ayam broiler di Indonesia menjadi lambat.
Padahal pengembangan ayam broiler memiliki profitabilitas yang cukup baik sebab
keuntungan dapat diperoleh dalam waktu yang relative singkat.
Di Sumatera
barat perkembangan industri ayam broiler belum berkembang begitu pesat. Hal ini
disebabkan karena beberapa kendala, seperti ketersediaan modal, keterbatasan
pengetahuan dan kemauan masyarakat, manajemen pengelolaan yang belum baik, serta
ketersediaan lahan terutama diwilayah perairan danau.
Salah satu wilayah
perairan danau di Sumatera Barat yang berpotensi untuk dilakukan pengembangan
peternakan ayam broiler adalah Maninjau. Maninjau merupakan daerah yang
terletak di provinsi Sumatera barat pada
00.17’
– 07.04’’ LS dan 1000 – 09’58.0” BT. Maninjau dikenal sebagai wilayah pariwisata karena
memiliki danau vulkanik yang berada pada ketinggian
461,50 meter di atas permukaan laut (Pribadi, A. dkk., 2007). Pengembangan
peternakan ayam broiler di wilayah sekitar perairan danau Maninjau belum
berkembang dengan baik, hal ini disebabkan karena masyarakat sekitar masih
enggan untuk melakukan pengembangan ayam broiler karena menganggap kondisi
lingkungan yang tidak cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler.
Padahal dilihat dari kondisi lahan, serta ekosistem perairan yang dapat menjadi
simbiosis matualisme menjadi peluang yang baik dalam pengembangan ayam broiler untuk
mencapai keuntungan atau profitabilitas yang maksimum.
Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri
atas komponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk
satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik
dan biotik (produser, konsumer, dan dekomposer) yang membentuk suatu hubungan
timbal balik yang saling mempengaruhi. Ekosistem perairan danau memiliki banyak
manfaat diantaranya sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai
penyumbang berbagai bahan genetic, sumber air bersih, tempat hidup berbagai
habitat seperti fitoplankton dan zooplankton serta organisme lainnya (Anonim,
2010). Wilayah perairan danau memiliki perbedaan suhu antara pagi dan malam
hari yang tidak begitu mencolok dibandingkan dengan wilayah pesisir, sehingga
tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan peternakan ayam broiler.
Melihat kondisi
diwilayah perairan danau termasuk danau Maninjau yang berpotensi untuk
pengambangan peternakan ayam broiler, maka perlu dikaji lebih lanjut mengenai
pemanfaatan ekosistem wilayah danau dan sekitarnya dalam meningkatkan
produktifitas ayam broiler dan sebaliknya sehingga dalam pola pemeliharaannya
mencapai keuntungan atau profiabilitas yang maksimal dan masyarakat sekitar
diwilayah perairan (danau) tidak enggan lagi untuk memulai usaha peternakan
ayam broiler.
PEMBAHASAN
Pemanfaatan
Ekosistem Wilayah Perairan Danau untuk Menunjang Produktifitas Ayam Broiler.
Pembagian
wilayah perairan danau dapat menjadi faktor penentu dalam penentuan pemanfaatan
ekosistem danau untuk pengembangan ayam broiler. Daerah litoral yang merupakan
daerah tepi perairan ekosistem danau dapat dimanfaatkan dalam peternakan ayam
broiler. Pada daerah ini cahaya matahari dapat masuk dengan optimal. Pada
daerah ini juga tumbuh tumbuhan air yang berakar dengan daun yang mencuat ketas
permukaan danau seperti eceng gondok, salin itu juga hidup berbagai jenis
ganggang, siput, ikan, serangga dan lain sebagainya.
a.
Pemanfaatan eceng gondok yang tumbuh disekitar danau sebagai
pakan ayam broiler
Eceng gondok (Eichchornia
crassipes) adalah salah satu tumbuhan air yang sering merusak lingkungan
danau dan sungai karena tumbuh dengan cepat sehingga perlu dilakukan upaya
untuk menanganinya agar tidak mengganggu dan merusak lingkungan. Salah satu alternatifnya adalah dimanfaatkan
sebagai bahan pakan ayam broiler (Mangisah dkk., 2006). Menurut Fuskhah (2000),
Eceng gondok mengandung bahan kering sekitar 7%, protein kasar 11,2%, serat
kasar 18,3, BETN 57%, Lemak kasar 0,9%, abu 12,6%; Ca 1,4%; dan P sebesar 0,3%.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan pakan ayam broiler memiliki keuntungan
bagi ekosistem danau dan ayam broiler sendiri. Pemanfaatan eceng gondok sebagai
bahan pakan ayam broiler dapat dilakukan dengan melakukan pengolahan melalui
proses fermentasi agar dapat menghasilkan pakan yang berkualitas yang menunjang
produktifitas dari ayam broiler.
Hasil
penelitian Mangisah dkk., 2006 menunjukkan bahwa penggunaan daun eceng gondok
hasil fermentasi berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kecernaan nutrien
ransum dan pertambahan bobot badan ayam broiler.
Pertumbuhan
eceng gondok yang begitu cepat yang dapat merusak ekosistem danau dapat menjadi
alternative untuk pengembangan ayam broiler, sebab eceng gondok dapat dijadikan
sebagai pakan ayam broiler dengan pengolahan seperti fermentasi yang dapat
meningkatkan pertumbuhan bobot badan ayam broiler, sehingga dapat meminimalisir
biaya pakan ayam broiler dan didapatkan keuntungan (profitabilitas) yang baik.
Pemanfaatan
Limbah Peternakan Ayam Broiler dalam Menunjang Kehidupan Ekosistem di Wilayah
Perairan Danau
Limbah
peternakan ayam broiler merupakan masalah yang besar bagi masyarakat sekitar
dalam pengembangannya. Limbah peternakan ayam broiler seperti kotoran ayam
broiler ternyata dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan biota disekitar
wilayah danau. Pemanfaatan ini dapat meminimalisir pencemaran lingkungan
diwilayah perairan danau serta dapat memperoleh keuntungan bagi peternak dan
masyarakat yang berada disekitar danau.
a.
Pemanfaatan kotoran ayam dalam bidang perikanan di
wilayah ekosistem perairan danau.
Dalam pemeliharaan ayam broiler akan menghasilkan kotoran
(limbah) yang mempunyai nilai nutrisi yang cukup tinggi. Jumlah kotoran ayam
yang dikeluarkan setiap harinya rata‑rata per ekor ayam 0, 15 kg (Anonim,
2010). Kotoran ayam terdiri dari sisa pakan dan serat selulosa yang tidak
dicerna. Kotoran ayam mengandung protein, karbohidrat, lemak dan senyawa
organik lainnya. Protein pada. kotoran ayam merupakan sumber nitrogen.
Komposisi kotoran ayam sangat bervariasi bergantung pada jenis ayam, umur,
keadaan individu ayarn, dan makanan (Anonim, 2010).
Budidaya perikanan diwilayah
danau Maninjau beberapa waktu belakang mengalami kendala dalam perkembangannya,
terutama dalam usaha pembenihan ikan. Permasalahan yang timbul yaitu tingginya
tingkat kematian pada fase larva ikan (Sari, 2017). Hal ini disebabkan karena
kekurangan sumber nutrisi, pada masa kritis, yaitu fase regenerasi makanan dari
kuning telur kemakanan lain (Sari, 2017), untuk mengatasi kematian pada stadia
larva maka perlu dicarikan makanan pengganti yang cocok untuk pertumbuhan larva
ikan diperairan danau.
Dalam budidaya perikanan hampir
70% biaya diperlukan untuk pakan ternak. Pemanfaatan limbah peternakan seperti
kotoran ternak ayam broiler dapat dijadikan sebagai salah stu alternative untuk
menekan biaya pengeluaran tersebut yaitu dijadikan sebagai pupuk organik.
Pemanfaatan kotoran ayam broiler sebagai pupuk organik dapat mendukung usaha
budidaya pembenihan ikan. Menurut Mudjiman (2000), agar benih ikan dapat tumbuh
dengan baik hingga dewasa perlu diberikan Daphania sp.
Untuk mendapatkan Daphania
sp dapat dikultur dengan menggunakan media pupuk organik asal ayam broiler.
Pupuk organik sendiri dapat dijadikan sebagai sumber makanan oleh daphania sp.
serta organisme makanan ikan yang lain yang akan diuraikan oleh bakteri untuk
merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton dalam ekosistem danau (Sari,
2017). Kandungan unsur hara didalam pupuk organik seperti nitrogen, phospor,
dan kalium dapat membantu pertumbuhan fitoplankton sebagai pakan Daphania sp.
Pemanfaatan kotoran ayam
broiler yang dijadikan sebagai pupuk organic dapat menunjang kehidupan
ekosistem perairan danau seperti ikan, fitoplankton dan organisme lainnya untuk
tumbuh dan berkembang. Kotoran ayam yang tadinya merupakan limbah peternakan
dapat menghasilkan keuntungan (profit) yang cukup baik dalam meningkatkan
populasi ikan didaerah ekosistem danau dan akhirnya pendapatan masyarakat
meningkat.
Pola
Pemeliharaan Ayam Broiler di Wilayah Perairan Danau untuk Mencapai
Profitabilitas yang Maksimum
Pola pemeliharaan memiliki
peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produktfitas ayam broiler. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam
pemeliharaan ayam broiler adalah perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan
serta pencegahan dan pengobatan penyakit. Produktifitas ayam broiler sendiri
dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu lingkungan 70% dan genetik 30%. Ayam broiler
sangat peka terhadap perubahan suhu lingkungan. Suhu yang melebihi ambang batas
pada ayam broiler akan mengakibatkan ternak mengalami heat stress bahkan kematian, hal ini akan mengakibatkan kerugian
yang besar secara ekonomi. Untuk itu diperlukan manipulasi lingkungan yang baik
dalam pengembangan ayam broiler diwilayah perairan (danau) untuk menghindari
kerugian-kerugian yang akan ditimbulkan dan mencapai keuntungan yang maksimum.
Dari
segi profitabilitas usaha ayam broiler cukup memberikan keuntungan yang besar
dalam waktu yang relatif singkat, sepanjang manajemen pemeliharaannya mengikuti
prosedur yang tepat. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai B/C rata-rata lebih
besar 1,2 baik pada usaha mandiri maupun industri. Angka B/C sebesar 1,2
memiliki makna setiap 1 rupiah modal yang dikeluarkan dapat menghasilkan
pendapatan 1,2 rupiah. Misalnya, total biaya produksi/pemeliharaan yang
dikeluarkan selama 1 periode (rata-rata 35 hari) per 1.000 ekor adalah
Rp26.500.000. maka akan mendapatkan hasil sebesar Rp.26.500.000 x 1,2 =
Rp31.800.000 atau keuntungan bersih yang diperoleh adalah Rp31.800.000 -
Rp26.500.000 = Rp.5.300.000 dengan catatan performance (performa) produksi dan
harga jual ayam dalam kondisi bagus atau tinggi.
a.
Manajemen
pemeliharaan ayam broiler diwilayah perairan (danau)
Wilayah
parairan (danau) memiliki ciri-ciri utama yaitu masih dapat ditembus oleh sinar
matahari, perbedaan suhu antara siang dan malam tidak begitu mencolok seperti
daerah pesisir, keadaan air yang tenang, dan masih banyak ditemukan kehidupan
biota seperti fitoplankton dan zooplankton (Anonim, 2018). Penggunaan kandang
panggung sangat cocok untuk pemeliharaan ayam broiler diwilayah perairan danau
dengan modal yang terbatas, penggunaan tirai dan ventilasi yang baik dapat
memberikan kenyamanan bagi kehidupan ayam broiler. Pada saat suhu naik, tirai
kandang dibuka agar sirkulasi udara berjalan dengan baik sehingga tidak
mempengaruhi produktifitas dari ayam broiler dan sebaliknya, pada saat suhu
udara rendah, penggunaan tirai dan lampu dapat memberikan kehangatan bagi ayam
broiler.
Selain
penggunaan kandang panggung, kandang dengan system close house juga merupakan
solusi yang baik dalam pemeliharaan ayam broiler diwilayah peraiaran danau.
Kandang system close house ini memudahkan peternak dalam memanajemen seluruh
tatalaksana pengembangan ayam broiler karena menggunakan system berbasis
teknologi, akan tetapi memerlukan modal yang cukup banyak.
Apabila
ayam broiler mendapatkan kenyamanan didalam kandang, maka produktifitas ayam
broiler dapat mencapai tingkat optimum sehingga mendapatkan keuntungan yang
maksimum.
Selain
faktor kandang dan lingkungan, faktor pakan juga berperan penting dalam
pemeliharaan ayam broiler di wilayah perairan (danau). Pemanfaatan eceng gondok
yang terdapat disekitar danau sebagai pakan ayam broiler dapat meningkatkan
pertumbuhan bobot badan ayam broiler, sehingga mengurangi biaya pakan dalam
pengembangannya. Selain itu untuk meminimalisir penyakit pada ayam broiler yang
dipelihara diwilayah perairan sekitar
danau perlu diperhatikan sanitasi kandang dan lingkungan sekitar agar tidak
mengakibatkan kerugian secara ekonomi.
SIMPULAN
Permintaan protein hewani
(daging ayam) akan meningkat seiring dengan pertambahan populasi, akan tetapi
tingkat ketersediaannya belum mencukupi. Hal ini disebabkan karena belum berkembangnya
industri peternakan ayam broiler di Indonesia terutama diwilayah perairan
(danau). Padahal wilayah perairan danau dapat memberikan feedback positif dalam
pengembangan ayam broiler.
Pemanfaatan ekosistem
perairan danau seperti eceng gondok sebagai bahan pakan ayam broiler merupakan
salah satu simbiosis mutualisme antara ekosistem perairan danau dengan ayam
broiler. Pemanfaatan eceng gondok dapat meminimalisir biaya pakan ayam broiler,
disisi lain pakan dari fermentasi eceng gondok dapat meningkatkat pertambahan
bobot badan ayam broiler sehingga dalam pengembangannya dapat meningkatkan
profitabilitas.
Selain pemanfaatan eceng
gondok yang tumbuh dierairan danau,. Pemanfaatan kotoran ayam broiler juga
dapat dijadikan sebagai pupuk organik dapat menunjang kehidupan ekosistem
perairan danau seperti ikan, fitoplankton dan organisme lainnya untuk tumbuh
dan berkembang. Kotoran ayam yang tadinya merupakan masalah karena berupa
limbah peternakan dapat menghasilkan keuntungan (profit) yang cukup baik dalam
meningkatkan populasi ikan didaerah ekosistem danau dan akhirnya pendapatan
masyarakat meningkat.
Agar keuntungan pemeliharaan
ayam broiler diwilayah perairan (danau) mencapai maksimal, maka diperlukan pola
pemeliharaan yang efektif dan efisien.
Penggunaan kandang panggung sangat cocok untuk pemeliharaan ayam broiler
diwilayah perairan danau dengan modal yang terbatas. Selain itu, kandang dengan
system close house juga merupakan solusi yang baik dalam pemeliharaan ayam
broiler diwilayah peraiaran danau. Kandang system close house ini memudahkan
peternak dalam memanajemen seluruh tatalaksana pengembangan ayam broiler karena
menggunakan system berbasis teknologi, akan tetapi memerlukan modal yang cukup
banyak.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2010. Pemanfaatan Limbah Peternakan Ayam Broiler sebagai Pakan
Ternak Ruminansia. www.gerbangpertanian.com. Diakses
14-10-2019
Badan Pusat Statistik
Provinsi. 2015. Konsumsi Protein Hewani.
https://sumbar.bps.go.id/. Diakses 14-01-2019
Dahlan, Mufiq dam S.
Haqiqi. 2012. Pengaruh Tepung Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Kematian
(Mortalitas) dan Berat Badan Ayam Pedaging (Broiler) Jurnal Ternak, Vol 3(2).
Fuskhah, E. 2000. Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Maart)
Solm) sebagai Alternatif Sumber Bahan Pakan, Industri dan Kerajinan. Jurnal
Ilmiah Sainteks VII (4): 226-234.
Mangisah, I., Tristiarti , W. Murningsih, M.H. Nasoetion, E.S. Jayanti,
dan Y. Astuti. 2006. Kecernaan Nutrien Eceng Gondok yang Difermentasi dengan
Aspergilus Niger pada Ayam Broiler.
Jurnal Indon. Trop. Anim.Agric. 31 (2).
Sari, Puspita. 2017. Ekosistem Air Tawar. Politeknik TEDC Bandung.
Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar