Rabu, 18 Maret 2020

PEMANFAATAN EKOSISTEM WILAYAH PERAIRAN AIR TAWAR (DANAU MANINJAU) DALAM PENGEMBANGAN PETERNAKAN AYAM BROILER UNTUK PENCAPAIAN PROFITABILITAS OPTIMUM


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peternakan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk menyediakan  pangan hewani berupa daging, susu dan telur yang bergizi tinggi, meningkatkan pendapatan peternak, menambah devisa serta memperluas kesempatan kerja dan pada masa yang akan datang diharapkan dapat menunjang pembangunan perekonomian bangsa (Saragih, 2000). Menurut Saragi (2000), pemerintah berusaha untuk meningkatkan pendapatan peternak dan memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat dengan mendayagunakan dan mengembangkan potensi ternak. Potensi ternak yang  bernilai jual tinggi salah satunya adalah ayam pedaging (broiler).

Ayam pedaging (broiler) merupakan strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging (Dahlan dkk., 2012). Daging ayam merupakan salah satu sumber bahan pangan hewani yang mengandung gizi cukup tinggi berupa protein dan energi. Permintaan terhadap daging ayam cenderung meningkat. Hal ini sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (2015) yang menyatakan bahwa terjadinya peningkatan konsumsi daging ayam ras pada tahun 2009 – 2013 yaitu dari 0,068 kg/ kapita menjadi 0,083 kg/ kapita. Selain itu faktor yang turut mendorong meningkatnya permintaan daging ayam adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat dari bahan pangan sumber protein nabati ke bahan pangan sumber protein hewani. Fenomena ini diperkirakan akan terus-menerus meningkat dan berlanjut di masa depan (Dilago, 2011).

Perkembangan industri ayam broiler di Indonesia belum berkembang dengan baik. Seiring dengan pertambahan populasi penduduk maka akan meningkatkan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan protein hewani (daging ayam). Akan tetapi, tingkat ketersediaannya masih belum mencukupi. Pemerintah telah berupaya mengatasi permasalaham tersebut dengan melakukan impor daging dan telur ayam. Tetapi, hal ini akan menyebabkan pengembangan ayam broiler di Indonesia menjadi lambat. Padahal pengembangan ayam broiler memiliki profitabilitas yang cukup baik sebab keuntungan dapat diperoleh dalam waktu yang relative singkat.

Di Sumatera barat perkembangan industri ayam broiler belum berkembang begitu pesat. Hal ini disebabkan karena beberapa kendala, seperti ketersediaan modal, keterbatasan pengetahuan dan kemauan masyarakat, manajemen pengelolaan yang belum baik, serta ketersediaan lahan terutama diwilayah perairan danau.

Salah satu wilayah perairan danau di Sumatera Barat yang berpotensi untuk dilakukan pengembangan peternakan ayam broiler adalah Maninjau. Maninjau merupakan daerah yang terletak di provinsi  Sumatera barat pada 00.17’ – 07.04’’ LS dan 1000 – 09’58.0” BT. Maninjau dikenal sebagai wilayah pariwisata karena memiliki danau vulkanik yang berada pada  ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut (Pribadi, A. dkk., 2007). Pengembangan peternakan ayam broiler di wilayah sekitar perairan danau Maninjau belum berkembang dengan baik, hal ini disebabkan karena masyarakat sekitar masih enggan untuk melakukan pengembangan ayam broiler karena menganggap kondisi lingkungan yang tidak cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler. Padahal dilihat dari kondisi lahan, serta ekosistem perairan yang dapat menjadi simbiosis matualisme menjadi peluang yang baik dalam pengembangan ayam broiler untuk mencapai keuntungan atau profitabilitas yang maksimum.

Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan biotik (produser, konsumer, dan dekomposer) yang membentuk suatu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ekosistem perairan danau memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai penyumbang berbagai bahan genetic, sumber air bersih, tempat hidup berbagai habitat seperti fitoplankton dan zooplankton serta organisme lainnya (Anonim, 2010). Wilayah perairan danau memiliki perbedaan suhu antara pagi dan malam hari yang tidak begitu mencolok dibandingkan dengan wilayah pesisir, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan peternakan ayam broiler.

            Melihat kondisi diwilayah perairan danau termasuk danau Maninjau yang berpotensi untuk pengambangan peternakan ayam broiler, maka perlu dikaji lebih lanjut mengenai pemanfaatan ekosistem wilayah danau dan sekitarnya dalam meningkatkan produktifitas ayam broiler dan sebaliknya sehingga dalam pola pemeliharaannya mencapai keuntungan atau profiabilitas yang maksimal dan masyarakat sekitar diwilayah perairan (danau) tidak enggan lagi untuk memulai usaha peternakan ayam broiler.



PEMBAHASAN

Pemanfaatan Ekosistem Wilayah Perairan Danau untuk Menunjang Produktifitas Ayam Broiler.

Pembagian wilayah perairan danau dapat menjadi faktor penentu dalam penentuan pemanfaatan ekosistem danau untuk pengembangan ayam broiler. Daerah litoral yang merupakan daerah tepi perairan ekosistem danau dapat dimanfaatkan dalam peternakan ayam broiler. Pada daerah ini cahaya matahari dapat masuk dengan optimal. Pada daerah ini juga tumbuh tumbuhan air yang berakar dengan daun yang mencuat ketas permukaan danau seperti eceng gondok, salin itu juga hidup berbagai jenis ganggang, siput, ikan, serangga dan lain sebagainya.

a.                Pemanfaatan eceng gondok yang tumbuh disekitar danau sebagai pakan ayam broiler

Eceng gondok (Eichchornia crassipes) adalah salah satu tumbuhan air yang sering merusak lingkungan danau dan sungai karena tumbuh dengan cepat sehingga perlu dilakukan upaya untuk menanganinya agar tidak mengganggu dan merusak lingkungan.  Salah satu alternatifnya adalah dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam broiler (Mangisah dkk., 2006). Menurut Fuskhah (2000), Eceng gondok mengandung bahan kering sekitar 7%, protein kasar 11,2%, serat kasar 18,3, BETN 57%, Lemak kasar 0,9%, abu 12,6%; Ca 1,4%; dan P sebesar 0,3%. Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan pakan ayam broiler memiliki keuntungan bagi ekosistem danau dan ayam broiler sendiri. Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan pakan ayam broiler dapat dilakukan dengan melakukan pengolahan melalui proses fermentasi agar dapat menghasilkan pakan yang berkualitas yang menunjang produktifitas dari ayam broiler.

Hasil penelitian Mangisah dkk., 2006 menunjukkan bahwa penggunaan daun eceng gondok hasil fermentasi berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kecernaan nutrien ransum dan pertambahan bobot badan ayam broiler.

Pertumbuhan eceng gondok yang begitu cepat yang dapat merusak ekosistem danau dapat menjadi alternative untuk pengembangan ayam broiler, sebab eceng gondok dapat dijadikan sebagai pakan ayam broiler dengan pengolahan seperti fermentasi yang dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan ayam broiler, sehingga dapat meminimalisir biaya pakan ayam broiler dan didapatkan keuntungan (profitabilitas) yang baik.

 

 Pemanfaatan Limbah Peternakan Ayam Broiler dalam Menunjang Kehidupan Ekosistem di Wilayah Perairan Danau

Limbah peternakan ayam broiler merupakan masalah yang besar bagi masyarakat sekitar dalam pengembangannya. Limbah peternakan ayam broiler seperti kotoran ayam broiler ternyata dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan biota disekitar wilayah danau. Pemanfaatan ini dapat meminimalisir pencemaran lingkungan diwilayah perairan danau serta dapat memperoleh keuntungan bagi peternak dan masyarakat yang berada disekitar danau.

a.                   Pemanfaatan kotoran ayam dalam bidang perikanan di wilayah ekosistem perairan danau.

Dalam pemeliharaan ayam broiler akan menghasilkan kotoran (limbah) yang mempunyai nilai nutrisi yang cukup tinggi. Jumlah kotoran ayam yang dikeluarkan setiap harinya rata‑rata per ekor ayam 0, 15 kg (Anonim, 2010). Kotoran ayam terdiri dari sisa pakan dan serat selulosa yang tidak dicerna. Kotoran ayam mengandung protein, karbohidrat, lemak dan senyawa organik lainnya. Protein pada. kotoran ayam merupakan sumber nitrogen. Komposisi kotoran ayam sangat bervariasi bergantung pada jenis ayam, umur, keadaan individu ayarn, dan makanan (Anonim, 2010).

Budidaya perikanan diwilayah danau Maninjau beberapa waktu belakang mengalami kendala dalam perkembangannya, terutama dalam usaha pembenihan ikan. Permasalahan yang timbul yaitu tingginya tingkat kematian pada fase larva ikan (Sari, 2017). Hal ini disebabkan karena kekurangan sumber nutrisi, pada masa kritis, yaitu fase regenerasi makanan dari kuning telur kemakanan lain (Sari, 2017), untuk mengatasi kematian pada stadia larva maka perlu dicarikan makanan pengganti yang cocok untuk pertumbuhan larva ikan diperairan danau.

Dalam budidaya perikanan hampir 70% biaya diperlukan untuk pakan ternak. Pemanfaatan limbah peternakan seperti kotoran ternak ayam broiler dapat dijadikan sebagai salah stu alternative untuk menekan biaya pengeluaran tersebut yaitu dijadikan sebagai pupuk organik. Pemanfaatan kotoran ayam broiler sebagai pupuk organik dapat mendukung usaha budidaya pembenihan ikan. Menurut Mudjiman (2000), agar benih ikan dapat tumbuh dengan baik hingga dewasa perlu diberikan Daphania sp.

Untuk mendapatkan Daphania sp dapat dikultur dengan menggunakan media pupuk organik asal ayam broiler. Pupuk organik sendiri dapat dijadikan sebagai sumber makanan oleh daphania sp. serta organisme makanan ikan yang lain yang akan diuraikan oleh bakteri untuk merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton dalam ekosistem danau (Sari, 2017). Kandungan unsur hara didalam pupuk organik seperti nitrogen, phospor, dan kalium dapat membantu pertumbuhan fitoplankton sebagai pakan Daphania sp.

Pemanfaatan kotoran ayam broiler yang dijadikan sebagai pupuk organic dapat menunjang kehidupan ekosistem perairan danau seperti ikan, fitoplankton dan organisme lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Kotoran ayam yang tadinya merupakan limbah peternakan dapat menghasilkan keuntungan (profit) yang cukup baik dalam meningkatkan populasi ikan didaerah ekosistem danau dan akhirnya pendapatan masyarakat meningkat.

 

 Pola Pemeliharaan Ayam Broiler di Wilayah Perairan Danau untuk Mencapai Profitabilitas yang Maksimum

Pola pemeliharaan memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produktfitas ayam broiler. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ayam broiler adalah perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan serta pencegahan dan pengobatan penyakit. Produktifitas ayam broiler sendiri dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu lingkungan 70% dan genetik 30%. Ayam broiler sangat peka terhadap perubahan suhu lingkungan. Suhu yang melebihi ambang batas pada ayam broiler akan mengakibatkan ternak mengalami heat stress bahkan kematian, hal ini akan mengakibatkan kerugian yang besar secara ekonomi. Untuk itu diperlukan manipulasi lingkungan yang baik dalam pengembangan ayam broiler diwilayah perairan (danau) untuk menghindari kerugian-kerugian yang akan ditimbulkan dan mencapai keuntungan yang maksimum.

Dari segi profitabilitas usaha ayam broiler cukup memberikan keuntungan yang besar dalam waktu yang relatif singkat, sepanjang manajemen pemeliharaannya mengikuti prosedur yang tepat. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai B/C rata-rata lebih besar 1,2 baik pada usaha mandiri maupun industri. Angka B/C sebesar 1,2 memiliki makna setiap 1 rupiah modal yang dikeluarkan dapat menghasilkan pendapatan 1,2 rupiah. Misalnya, total biaya produksi/pemeliharaan yang dikeluarkan selama 1 periode (rata-rata 35 hari) per 1.000 ekor adalah Rp26.500.000. maka akan mendapatkan hasil sebesar Rp.26.500.000 x 1,2 = Rp31.800.000 atau keuntungan bersih yang diperoleh adalah Rp31.800.000 - Rp26.500.000 = Rp.5.300.000 dengan catatan performance (performa) produksi dan harga jual ayam dalam kondisi bagus atau tinggi.

a.                            Manajemen pemeliharaan ayam broiler diwilayah perairan (danau)

Wilayah parairan (danau) memiliki ciri-ciri utama yaitu masih dapat ditembus oleh sinar matahari, perbedaan suhu antara siang dan malam tidak begitu mencolok seperti daerah pesisir, keadaan air yang tenang, dan masih banyak ditemukan kehidupan biota seperti fitoplankton dan zooplankton (Anonim, 2018). Penggunaan kandang panggung sangat cocok untuk pemeliharaan ayam broiler diwilayah perairan danau dengan modal yang terbatas, penggunaan tirai dan ventilasi yang baik dapat memberikan kenyamanan bagi kehidupan ayam broiler. Pada saat suhu naik, tirai kandang dibuka agar sirkulasi udara berjalan dengan baik sehingga tidak mempengaruhi produktifitas dari ayam broiler dan sebaliknya, pada saat suhu udara rendah, penggunaan tirai dan lampu dapat memberikan kehangatan bagi ayam broiler.

Selain penggunaan kandang panggung, kandang dengan system close house juga merupakan solusi yang baik dalam pemeliharaan ayam broiler diwilayah peraiaran danau. Kandang system close house ini memudahkan peternak dalam memanajemen seluruh tatalaksana pengembangan ayam broiler karena menggunakan system berbasis teknologi, akan tetapi memerlukan modal yang cukup banyak.

Apabila ayam broiler mendapatkan kenyamanan didalam kandang, maka produktifitas ayam broiler dapat mencapai tingkat optimum sehingga mendapatkan keuntungan yang maksimum.

Selain faktor kandang dan lingkungan, faktor pakan juga berperan penting dalam pemeliharaan ayam broiler di wilayah perairan (danau). Pemanfaatan eceng gondok yang terdapat disekitar danau sebagai pakan ayam broiler dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan ayam broiler, sehingga mengurangi biaya pakan dalam pengembangannya. Selain itu untuk meminimalisir penyakit pada ayam broiler yang dipelihara diwilayah perairan  sekitar danau perlu diperhatikan sanitasi kandang dan lingkungan sekitar agar tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomi.



SIMPULAN

Permintaan protein hewani (daging ayam) akan meningkat seiring dengan pertambahan populasi, akan tetapi tingkat ketersediaannya belum mencukupi. Hal ini disebabkan karena belum berkembangnya industri peternakan ayam broiler di Indonesia terutama diwilayah perairan (danau). Padahal wilayah perairan danau dapat memberikan feedback positif dalam pengembangan ayam broiler.

Pemanfaatan ekosistem perairan danau seperti eceng gondok sebagai bahan pakan ayam broiler merupakan salah satu simbiosis mutualisme antara ekosistem perairan danau dengan ayam broiler. Pemanfaatan eceng gondok dapat meminimalisir biaya pakan ayam broiler, disisi lain pakan dari fermentasi eceng gondok dapat meningkatkat pertambahan bobot badan ayam broiler sehingga dalam pengembangannya dapat meningkatkan profitabilitas.

Selain pemanfaatan eceng gondok yang tumbuh dierairan danau,. Pemanfaatan kotoran ayam broiler juga dapat dijadikan sebagai pupuk organik dapat menunjang kehidupan ekosistem perairan danau seperti ikan, fitoplankton dan organisme lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Kotoran ayam yang tadinya merupakan masalah karena berupa limbah peternakan dapat menghasilkan keuntungan (profit) yang cukup baik dalam meningkatkan populasi ikan didaerah ekosistem danau dan akhirnya pendapatan masyarakat meningkat.

Agar keuntungan pemeliharaan ayam broiler diwilayah perairan (danau) mencapai maksimal, maka diperlukan pola pemeliharaan yang efektif dan efisien. Penggunaan kandang panggung sangat cocok untuk pemeliharaan ayam broiler diwilayah perairan danau dengan modal yang terbatas. Selain itu, kandang dengan system close house juga merupakan solusi yang baik dalam pemeliharaan ayam broiler diwilayah peraiaran danau. Kandang system close house ini memudahkan peternak dalam memanajemen seluruh tatalaksana pengembangan ayam broiler karena menggunakan system berbasis teknologi, akan tetapi memerlukan modal yang cukup banyak.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Pemanfaatan Limbah Peternakan Ayam Broiler sebagai Pakan Ternak Ruminansia. www.gerbangpertanian.com. Diakses 14-10-2019

Badan Pusat Statistik Provinsi. 2015. Konsumsi Protein Hewani.  https://sumbar.bps.go.id/. Diakses 14-01-2019

Dahlan, Mufiq dam S. Haqiqi. 2012. Pengaruh Tepung Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Kematian (Mortalitas) dan Berat Badan Ayam Pedaging (Broiler) Jurnal  Ternak, Vol 3(2).

Fuskhah, E.  2000.  Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Maart) Solm) sebagai Alternatif Sumber Bahan Pakan, Industri dan Kerajinan. Jurnal Ilmiah Sainteks VII (4): 226-234.

Mangisah, I., Tristiarti , W. Murningsih, M.H. Nasoetion, E.S. Jayanti, dan Y. Astuti. 2006. Kecernaan Nutrien Eceng Gondok yang Difermentasi dengan Aspergilus Niger pada  Ayam Broiler. Jurnal Indon. Trop. Anim.Agric. 31 (2).

Sari, Puspita. 2017. Ekosistem Air Tawar. Politeknik TEDC Bandung. Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar